BOGOR, CEKLISSATU - Masyarakat ideal merupakan masyarakat yang hidupnya seimbang. Hubungan dengan diri sendiri, hubungan dengan Tuhan, dan hubungan dengan lingkungan sekitarnya. Contoh hubungan seseorang dengan dirinya sendiri adalah dengan menyayangi dirinya atau self love. Melalui self love tersebut, biasanya orang akan mengikuti keinginan dirinya. Misalnya, pergi ke salon (untuk para wanita). Sementara itu, hubungan seseorang dengan Tuhannya dapat dilaksanakan melalui beribadah. Kemudian, hubungan seseorang dengan lingkungannya, dapat dilakukan dengan bersosialisasi dengan tetangga atau memberi makan hewan dan tumbuhan. 


Ada banyak hal yang dapat dilakukan agar hidup kita menjadi seimbang dan menjadi masyarakat ideal. Namun, saat ini, banyak pula hal yang menghambat manusia untuk dapat hidup seimbang. Salah satunya adalah teknologi. Teknologi memang dapat membantu manusia dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Kehadirannya membuat kehidupan menjadi berubah. Hal yang semula dilakukan secara konvensional atau manual, kini sudah dapat dilakukan dengan bantuan teknologi. Apapun dapat dilakukan dengan sekali klik. Entah dari gawai ataupun dari benda-benda yang bersangkutan yang telah memiliki teknologi touchscreen. Misalnya, dispenser, rice cooker, kulkas, mesin cuci, televisi, dan masih banyak lagi.


Dengan hadirnya teknologi, waktu manusia menjadi lebih efektif dan efisien. Contohnya, saat ini jika ingin membeli barang. Kita tidak perlu jauh-jauh ke toko atau pasar. Cukup dengan mengunduh aplikasi E-Commerce, kita dapat belanja tanpa harus repot dan membuang waktu ke pasar. Namun, dalam teknologi, di mana ada hal yang positif, di sana pasti terdapat hal  negatif. Dampak negatif yang paling umum dari hadirnya teknologi adalah kecanduan. Misalnya, kecanduan dalam berbelanja secara daring atau online. Karena banyak promo, kita seringkali kalap dalam mengalokasikan uang. Selain itu, metode yang mudah juga membuat badan kita minim bergerak. Akibatnya dapat berdampak ke kesehatan. Dikutip dari Halodoc.com, beberapa penyakit yang diakibatkan dari malas bergerak adalah susah Buang Air Besar (BAB), nyeri lutut, gangguan pernapasan, obesitas, penyakit kardiovaskular, mudah stres, dan kulit yang menjadi kusam.


Pada intinya, jika manusia bijak menggunakan teknologi, ia akan mendapatkan banyak manfaat dari teknologi tersebut. Namun, jika ia tidak bijak menggunakannya, teknologi tersebut dapat menjadi petaka. Contohnya, saat ini teknologi mempermudah kita dalam berkomunikasi. Salah satu produknya adalah gawai atau smartphone. Melalui gawai, yang jauh menjadi dekat. Ironisnya, yang dekat kerap kali menjadi jauh. Pasalnya, dengan gawai kita menjadi lebih mudah dalam bertukar kabar. Namun, saking menjadi mudahnya, terkadang ketika kita sedang berkumpul bersama keluarga atau teman, tangan kita sibuk bertukar kabar dengan orang-orang yang jauh. Padahal, raga kita sedang dikelilingi teman-teman atau keluarga kita. Sehingga, hidup kita tidak menjadi ideal karena hubungan dengan lingkungan sekitar tidak terlaksana sebagaimana mestinya.

Baca Juga : Diduga Hendak Transaksi Barang Haram di JLD, Pria Berusia 25 Tahun Diciduk Polisi 


Salah satu contoh dari perilaku seimbang dengan lingkungan sekitar juga dapat kita lakukan kepada bumi. Seperti yang kita ketahui, bahwa saat ini bumi sedang mengalami banyak perubahan. Contohnya, kondisi bumi yang semakin panas, membuat es di Kutub Utara mencair. Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal “Communications Earth & Environment” menyebutkan, bahwa es di Kutub Utara mencair empat kali lebih cepat. Ironisnya, dampak jangka panjang dan pendek dari pencairan es di Kutub Utara juga bukan main. Dilansir dari iNews.id dampak dari pencairan es di Kutub Utara yaitu, peningkatan air laut yang berpotensi menenggelamkan beberapa daratan serta pulau-pulau kecil dan penurunan permukaan tanah dan iklim laut. Bukan tanpa sebab es di kutub utara mencair. Salah satu penyebab mencairnya es di Kutub Utara adalah karena efek rumah kaca.


Berdasarkan Sumber.belajar.kemdikbud.go.id, Efek rumah kaca merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan bumi yang memiliki efek seperti rumah kaca di atas di mana panas matahari terperangkap oleh atmosfer bumi. Gas-gas di atmosfer seperti karbon dioksida (CO2) dapat menahan panas matahari sehingga panas matahari terperangkap di dalam atmosfer bumi. Sementara itu, efek rumah kaca sendiri disebabkan oleh pemakaian energi, khususnya karbon dioksida yang berlebihan. Oleh karena itu, kita harus meminimalisasinya. Upaya yang dapat kita lakukan untuk meminimalisasi efek rumah kaca, di antaranya, mengurangi pemakaian kendaraan pribadi, membatasi penggunaan air conditioner (AC), meminimalisasi penggunaan listrik, mengelola sampah dengan baik, menanam pohon atau tumbuhan, serta mendaur ulang sampah.


Dilansir dari Kumparan.com, per 2022, sampah di dunia mencapai 3 miliar. Kementerian Lingkungan Hidup (KLHK) dan Kehutanan pada tahun 2021 juga mencatat volume sampah di Indonesia yang terdiri dari 154 Kabupaten/kota se-Indonesia mencapai 18,2 juta ton/tahun dengan total 70 juta ton. KLHK juga menyebutkan bahwa sampah plastik di laut Indonesia jumlahnya mencapai 6,8 ton per tahun. Penelitian Jambeck dalam jurnal yang diterbitkan dengan judul “Plastic Waste Inputs From Land Into Ocean” juga menunjukkan bahwa Indonesia menjadi salah satu negara dengan penyumbang sampah plastik terbesar untuk laut. Di mana Indonesia berada di posisi kedua setelah China dengan penyumbang sampah sebesar 267,2 juta ton ke laut.


Sampah tidak hanya menjadi masalah di Indonesia, tetapi juga di negara-negara lain. Terbukti dari program yang diluncurkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan merupakan salah satu program terbesar PBB. SDGs sendiri merupakan program tingkat global dalam rangka peningkatan kualitas hidup masyarakat sehingga terwujudnya kehidupan masyarakat yang ideal. SDGs merupakan kelanjutan dari Millennium Development Goals (MDGs) yang dilaksanakan pada tahun 2000 hingga 2015. Berbeda dari MDGs yang memiliki 8 tujuan, SDGs memiliki 17 tujuan dan 169 target yang berlaku hingga tahun 2030 nanti. Setelah adanya SDGs, dunia mulai gencar untuk meminimalisasi sampah melalui banyak hal. Berbagai pihak aktif dalam mensosialisasikan SDGs. Baik akademisi, pelaku bisnis, komunitas, pemerintahan, maupun media.


Tak sampai di situ. Pola hidup masyarakat juga nyatanya perlahan berubah. Mulai dari mengganti sedotan, sendok, dan garpu plastik dengan sedotan, sendok, dan garpu ramah lingkungan, baik yang terbuat dari bambu maupun stainless steel, memilah sampah, hingga kebijakan pemerintah yang mengharuskan swalayan atau minimarket untuk mengganti plastik untuk wadah belanja, dengan tas belanja ramah lingkungan. Kebijakan tersebut juga telah tertera dalam Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 55 Tahun 2020 tentang Standar Industri Hijau Untuk Industri Tas Atau Kantong Belanja Plastik dan Bioplastik yang berlaku sejak 10 November 2020. Perilaku tersebut tentu tidak hadir begitu saja. Mengingat, banyak pihak yang mensosialisasikan gaya hidup yang ramah lingkungan ini.


Meskipun demikian, tak bisa kita pungkiri bahwa hidup kita tidak lepas dari sampah plastik. Banyak masyarakat yang masih mengandalkan plastik dalam kehidupan sehari-hari. Plastik nyatanya tidak bisa sepenuhnya lepas dari kehidupan manusia. Oleh karena itu, plastik yang telah menjadi sampah tersebut perlu diubah menjadi sesuatu yang lebih berarti dan memiliki nilai. Salah satu perusahaan yang memfasilitasi masyarakat dalam mendaur ulang sampah adalah Waste Hub. Saat ini, terdapat lebih dari 23.247 masyarakat yang telah berpartisipasi mempercayakan pengelolaan sampahnya ke Waste Hub. Sementara itu, Waste Hub telah mengelola lebih dari 243.717 kilo sampah.


 
Penulis : Dhea Sekar Arum
Mahasiswi Ilmu Komunikasi UPN Veteran Jakarta

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS