Andrea menegaskan bahwa COP30 harus dikenang sebagai “COP implementasi adaptasi” sekaligus “COP yang memajukan iklim terintegrasi dengan ekonomi dan penyediaan lapangan kerja. Namun di atas semua itu, ia berharap COP30 menjadi COP of Truth, dengan sains sebagai dasar kebijakan.
Baca Juga: Menteri LH Sebut Kehutanan dan Energi Bersih Jadi Kunci Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca
Sekretaris Eksekutif UNFCCC, Simon Stiell, juga mengingatkan kembali kesepakatan Paris 2015 yang menjadi tonggak penurunan emisi global.
“Meski kurva emisi mulai menurun, masih banyak pekerjaan besar untuk memperkuat ketahanan iklim dan mempercepat transisi energi,” katanya.
Stiell mengajak seluruh delegasi mendukung COP30 dengan semangat ekosistem sungai Amazon, yang saling bergantung satu sama lain, sebagai simbol kerja sama lintas sektor dan negara.
Presiden Brasil, Luiz Inácio Lula da Silva, meluncurkan Call for Action berisi tiga poin utama. Pertama, Brasil mengajak seluruh negara mematuhi komitmen iklim melalui formulasi dan implementasi Nationally Determined Contributions (NDC) yang ambisius dengan dukungan Means of Implementation (MoI) yang memadai.
Kedua, Lula menyerukan percepatan aksi iklim global dan mengusulkan pembentukan Climate Council yang terhubung langsung dengan Majelis Umum PBB untuk memperkuat status politik isu perubahan iklim.
“Ketiga, Brasil menegaskan bahwa manusia harus menjadi inti dari agenda perubahan iklim, karena pemanasan global dapat mendorong jutaan orang kembali ke jurang kemiskinan dan kelaparan,” ungkapnya.
Hashim Djojohadikusumo menjelaskan, Indonesia mengusung dua strategi utama dalam konferensi itu.
Comment