JAKARTA, CEKLISSATU.COM - BMKG dan Puslitkoka berkolaborasi mengintegrasikan data cuaca presisi guna memperkuat ketahanan sektor perkebunan menghadapi dampak perubahan iklim.
Langkah strategis itu diambil sebagai respons terhadap dampak ekstrem perubahan iklim, seperti fenomena El Niño dan La Niña, yang terbukti dapat memangkas produktivitas kopi dan kakao nasional hingga 30–60 persen.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan menegaskan, keterkaitan erat antara data iklim dan keberhasilan sektor perkebunan yang telah tercatat sejak era kolonial.
Baca Juga: DPD RI Gelar FGD Susun RUU Pengelolaan Perubahan Iklim
Ia menyatakan kesiapan BMKG untuk berkolaborasi penuh dengan seluruh pihak untuk menjaga ketahanan sektor perkebunan dari ancaman perubahan iklim.
"Catatan klimatologi sejatinya adalah perilaku bumi yang terdokumentasi. BMKG sangat terbuka untuk melakukan riset kolaboratif dan pemanfaatan data iklim bersama Puslitkoka dan lembaga lainnya untuk memperkuat ketahanan sektor ini," kata Ardhasena dikutip dari keterangannya, Kamis (6/11/2025).
Ancaman perubahan iklim terhadap komoditas unggulan seperti kopi dan kakao kini dinilai semakin nyata.
Baca Juga: Upaya Mitigasi Perumda Air Minum Tirta Kahuripan Dalam Konservasi Sumber Mata Air Di Kabupaten Bogor
Kepala Puslitkoka, Dini Astika Sari memaparkan bahwa anomali iklim kini telah menjadi sebuah kenormalan baru yang harus dihadapi dengan strategi adaptasi dan mitigasi berbasis data.
Oleh karenanya, penting untuk menggunakan konsep adaptive and sustainable coffee farming yang berbasis pada ekologi, ekonomi, dan sosial budaya lokal.
Menurutnya, fenomena El Niño dan La Niña dapat menurunkan hasil panen kopi dan kakao hingga 30–60 persen.
Baca Juga: Aktivis Lingkungan China Keluhkan Pemerintah yang Tertutup Tentang Perubahan Iklim
Sehingga, pemanfaatan data iklim dinamis dan sistem monitoring seperti ‘Nusaklim’ menjadi krusial untuk memberikan rekomendasi teknis yang tepat guna bagi petani dan perusahaan perkebunan.
"Puslitkoka berupaya menggabungkan outlook produksi dengan outlook iklim menjadi satu sistem informasi terpadu," jelasnya.
Perwakilan petani dan penyuluh pertanian menyuarakan kebutuhan mendesak akan informasi iklim yang lebih spesifik, mudah dipahami, dan dapat diaplikasikan langsung.
Baca Juga: Kota Bandung Berpotensi Alami Cuaca Ekstrem, BMKG Imbau Warga Waspada Angin Kencang dan Petir
Mereka mengusulkan adanya kalender tanam dinamis dan penguatan literasi iklim di tingkat lapangan melalui program seperti Sekolah Lapang Iklim (SLI).
Comment