“Ini akibat provinsi lamban membangun jalan tambang, sehingga menyebabkan banyak kecelakaan,” kata Dedi.  

Dedi kemudian mempertanyakan penyebab tingginya angka korban di Jalan Parung Panjang. Kapolres Bogor kembali menegaskan bahwa penyebab utamanya adalah kondisi jalan yang rusak, tingginya jumlah muatan truk, serta tidak adanya sinkronisasi jam operasional kendaraan tambang dengan aktivitas masyarakat, seperti orang tua yang mengantar dan menjemput anak sekolah.  

Baca Juga: Polsek Parung Panjang Berikan Penyuluhan Mencegah Radikalisme dan Bullying ke Murid dan Guru

"Ini di luar penyakit ISPA akibat polusi tambang. Kami butuh bantuan Pemprov," ujar Rio.  

Wakil Bupati Bogor terpilih, Ade Ruhandi, menambahkan bahwa jalan tersebut merupakan milik provinsi dan digunakan oleh kendaraan tambang. Menurutnya, ketidaksinkronan kebijakan antara Pemerintah Kabupaten Bogor dan Pemerintah Kabupaten Tangerang juga menjadi faktor yang memperburuk situasi.  

Baca Juga: Kantong Parkir Resmi Beroperasi, Pj Bupati Bogor: Gratis untuk Truk Tambang Diluar Jam Operasional

“Masalahnya di sini adalah kurangnya sinergi antara kebijakan Pemerintah Tangerang dan Bogor. Perlu ada fasilitasi,” jelas Ade.  

Rio pun mengusulkan agar jam operasional truk tambang diatur secara lebih terkoordinasi antara Pemprov Jawa Barat dan Pemprov Banten. Jika tidak, maka jumlah korban kecelakaan bisa terus bertambah.  

Menanggapi hal itu, Dedi Mulyadi menyebut Jalan Parung Panjang sebagai “neraka” bagi warga Bogor. Ia menyoroti berbagai dampak negatif akibat aktivitas tambang, mulai dari kecelakaan, polusi, hingga kerusakan lingkungan.  

Sebagai langkah konkret, Dedi memastikan bahwa Pemprov Jawa Barat akan menyelesaikan pembangunan jalan tambang khusus pada tahun 2026.  

“Tahun 2026, kami akan selesaikan. Tanah akan dilebarkan, dan jalan tambang khusus akan dibangun,” tegasnya.  

Dedi juga berjanji akan segera menggelar rapat koordinasi bersama Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Perhubungan Pemprov Jawa Barat, serta Dinas Perhubungan Kabupaten Tangerang, Banten, untuk mencari solusi terbaik.  

“Rabu nanti kita bahas di Mapolres,” pungkasnya.

(Febrian Batara Aditya Rahman)