NAGOYA, CEKLISSATU -- Tim boccia Indonesia melengkapi kesuksesan di Asian Para Games 2026 dengan raihan emas keempat lewat nomor tim campuran BC1/BC2. Prestasi ini membuat Gischa Zayana dkk. semakin percaya diri menatap Paralimpiade Los Angeles 2028.
Boccia memastikan dirinya sebagai cabang olahraga (cabor) yang paling banyak memberikan medali emas. Tim campuran BC1/BC2 yang diperkuat Felix Ardi Yudha, Gischa Zayana dan Muhammad Afrizal Syafa tanpa kesulitan berarti bertahan Thailand di partai final di Nagoya General Gymnasium (Rainbow Hall), Sabtu (24/10/2026).
Keberhasilan nomor mixed team ini melengkapi kesuksesan nomor individu yang meraih tiga medali emas. Mereka adalah Gischa Zayana (Perorangan BC2 putri), Felix Ardi Yudha (Perorangan BC1 putra), dan Handayani (Perorangan BC1 putri).
Raihan empat medali emas jauh melebihi target awal yang dibebankan kepada tim boccia, yakni satu emas. Koordinator pelatih boccia Indonesia, Islahuzzaman Nur Yadin, memuji penampilan para atlet yang mampu tampil konsisten.
"Di luar prediksi ya hari ini. Thailand biasanya (persaingan) agak berimbang, tumben hari ini yang sisi kanan, si Worawut (Saengampa) agak kurang bagus, makanya kita bisa mengatasi. Memang agak tidak berimbang hasil akhirnya," ucap Islahuzzaman.
"Ya Alhamdulillah dengan hasil ini, karena memang target awal kita di kelas team, karena di team kita kuat, nomor satu dunia. Dengan tambahan prestasi dari nomor individu, harapanya ini sebagai bagian dari persiapan ke Los Angeles," lanjutnya.
Islah, sapaan akrabnya, menilai peluang untuk meloloskan atlet ke Paralimpiade 2028 terbuka lebar. Hasil dari setiap mengikuti kejuaraan dunia masih cukup positif hingga peringkat dunia nomor tim Indonesia maupun para atletnya terdongkrak.
“Insya Allah untuk yang tim, kita peringkat satu, kemungkinan kalau di tahun 2027 kita akan melakoni kejuaraan regional, karena syarat lolosnya memang dari regional dulu. Kalau lewat ini lolos, kita langsung lolos ke LA. Kalau tidak, kita bisa lolos pakai skema ranking. 99 persen lolos karena skor kita terlalu tinggi dibandingkan dengan negara lain,” tutur Islah.
Islah memastikan masa persiapan boccia juga sangat mulus, termasuk sebelum ke Nagoya. Keberadaan enam lapangan boccia berkualitas di Pusat Pelatihan Paralimpiade Indonesia (PPPI) Delingan memudahkan proses adaptasi para atlet menuju kompetisi.
"Lapangan di Delingan sangat luar biasa. Keberasaan fasilitas itu sangat membantu sekali karena fasilitasnya memakai karpet, sesuai dengan yang ada di perlombaan ini. Setiap akan bertanding, kita latihan full ke sana," ungkap Islah.
Sementara itu, kapten nomor tim campuran Indonesia, Felix Ardi Yudha, merasa bersyukur atas raihan prestasi di Asian Para Games 2026. Untuk laga final hari ini, Felix dan dua rekannya hanya berusaha memanfaatkan situasi pertandingan.
"Yang jelas tampil sangat luar biasa sekali. Kita berusaha sebaik mungkin karena lawannya bisa dikatakan sebenarnya kuat. Kita berusaha mengambil celah-celah kecil. Kalau ada momen ambil poin, kita curi poin," ucap Felix.
“Alhamdulillah, saya bersyukur atas prestasin boccia Indonesia di ajang Asian Para Games Nagoya ini. Semoga ini jadi awal yang baik juga di event event selanjutnya,” imbuh Felix.
Hal yang sama juga diungkapkan Gischa. Ia merasa lega karena prestasi yang dicapai Indonesia di ajang ini sesuai harapan.
“Bersyukur, Alhamdulillah bisa bareng-bareng menghasilkan medali buat indonesia. Saya berharap kedepan bisa lebih baik lagi,” ungkap Gischa.
Asian Para Games 2026 menjadi batu loncatan agar mencatatkan prestasi yang lebih tinggi, terutama Paralimpiade Los Angeles 2028. "Semoga aja kita bisa stabil terus sampai Los Angeles nanti," ucap Afrizal Syafa.
Email: tuhuskemenpora@gmail.com
Comment