Ada juga yang masih bertemu di kelas tiga di tahun 1979. Namun, mereka ke luar bersamaan, di pertengahan 1980 karena adanya perpanjangan masa belajar enam bulan dari kebijakan Mendikbud Daud Yoesoef.

Sahabat Dupati ini di masa mudanya dikenal sebagai pekerja keras, kompetitif, dan memiliki komitmen tinggi, tumbuh di masa kemakmuran ekonomi pasca-perang dan mengalami perubahan sosial yang besar. 

Karakteristik lainnya termasuk kemandirian, loyalitas, dan kecenderungan untuk mempertahankan tradisi, seperti reuni ini mungkin.

Baca Juga: Mewarisi Tali Silaturhami ke Anak Cucu, Alumni PGRI 1 Ciawi Angkatan 96 Gelar Reunian 

Sebagian besar dari para sahabat di SMAN IX, termasuk Dupati, adalah pencinta alam. Masih terkenang akan salah satu lagu wajib pencinta alam dulu; Di Jenjang Desember.

Di Jenjang Desember

Dan bila senyum duka
Terawang di ufuk senja
Itu tanda ku tiada

Dan bila matahari
Terbenam di ufuk timur
Itu tanda ku tiada

Di jenjang Desember kau datang
Padaku
Kan kubimbing kelereng semeru
Kubelai rambut yang hitam
Dan kau senyum malu
Ooh indahnya Mahameru

Di ujung bibirmu kureguk cintamu
Penyegar, penghangatkan tubuhku
Burung-burung kan bernyanyi
Alampun berseri
Ooh indahnya Mahameru...

Lagu di jenjang Desember tidak diciptakan oleh Soe Hok Gie, tetapi merupakan lagu yang terinspirasi oleh peristiwa meninggalnya Soe Hok Gie di Gunung Semeru pada 16 Desember 1969. 

Lagu ini sering dikaitkan dengan Soe Hok Gie karena perannya sebagai aktivis dan pendaki gunung, serta tempat ia meninggal.