BOGOR, CEKLISSATU.COM -- Seringkali dalam peristiwa bencana alam, masyarakat cenderung menjadikan Tuhan sebagai pihak yang disalahkan atau dianggap penyebab langsung. Sebagian memaknainya sebagai bentuk ujian bagi orang beriman, sementara yang lain melihatnya sebagai hukuman atau azab bagi mereka yang dianggap durhaka.
Persoalan bencana alam kerap dikaitkan dengan perdebatan teologis. Dalam pandangan Mu‘tazilah, setelah Allah menciptakan makhluk, Ia menetapkan hukum-hukum atau ketentuan-ketentuan alam (sunnatullah), kemudian tidak lagi terlibat secara langsung terhadap berbagai peristiwa yang terjadi.
Sebaliknya, Asy‘ariyah berpendapat bahwa Allah tetap berperan aktif dalam seluruh mekanisme takdir yang ditetapkan-Nya, sehingga setiap kejadian di dunia tetap dipahami memiliki keterlibatan langsung dari Tuhan.
Baca Juga: Gunung Putri Bogor Apel Siaga Bencana, Ratusan Personel Gabungan Disiagakan Hadapi Musim Hujan
Dari pola pikir inilah muncul konsep ujian, cobaan, maupun azab yang menempatkan Allah sebagai pelakunya.
Menurut para ahli, hujan ekstrem semacam ini lazim terjadi pada puncak musim hujan dan dapat dipicu oleh dinamika cuaca lokal maupun atmosfer yang secara tiba-tiba menjadi sangat intens.
Fenomena tersebut merupakan gejala alam yang bersifat wajar dan berlangsung sesuai hukum alam, sehingga idealnya manusia memahami karakteristiknya agar dapat meresponsnya secara tepat.
Baca Juga: Jaro Ade Ajak 416 Kades di Kabupaten Bogor Sisihkan Dana Desa untuk Bantu Korban Bencana di Sumatera
Namun, ketika dorongan-dorongan negatif seperti kelicikan, kecurangan, dan keserakahan menguasai cara berpikir, perasaan, dan perilaku, kemudian membentuk pandangan, sikap, serta orientasi hidup, hal itu dapat menumpulkan akal sehat dan nurani.
Comment