Sikap mereka terhadap alam sangat keras. Ketika berhasil membuka rahasia-rahasia alam, pengetahuan itu digunakan untuk memenuhi selera naluri yang serakah, licik, dan culas.
Melalui metode ilmiah, lahirlah industrialisasi kemudian menjadi “kereta” yang menggilas alam. Pengetahuan empiris dan positivistis tentang alam tidak digunakan sebagai sarana untuk menjalin hubungan yang harmonis, tetapi justru untuk mengeksploitasinya.
Kerusakan alam kini berada di ambang batas; manusia telah sangat resah dan bingung bagaimana mencegahnya.
Akibat kerusakan alam tersebut, David Wallace-Wells (2014) menulis buku Bumi yang Tidak Dapat Dihuni. Ia menggambarkan masa depan bumi yang semakin tidak layak huni akibat krisis iklim yang terus memburuk.
Wallace-Wells memaparkan bagaimana pemanasan global memicu bencana berlapis—mulai dari gelombang panas ekstrem, kenaikan permukaan laut, kelangkaan pangan dan air, hingga instabilitas politik dan ekonomi—yang semuanya saling memperparah.
Baca Juga: Pemkab Bogor Kirim Tim Medis untuk Misi Kemanusiaan Bantu Korban Bencana di Aceh, Sumbar dan Sumut
Buku ini menegaskan bahwa krisis iklim bukan ancaman jauh di masa depan, tetapi telah terjadi sekarang, dan hanya tindakan manusia yang cepat, radikal, dan kolektif yang dapat mencegah bumi menjadi tempat yang tidak dapat dihuni.
Comment