BOGOR, CEKLISSATUDua kekuatan politik di Kota Bogor semakin intensif membangun komunikasi politik. Setelah deklarasi KIB disusul intensitas komunikasi PKS dan PDIP Kota Bogor

Kondisi ini akan semakin mengkristalkan figur-figur yang berpeluang besar diusung oleh partai politik atau gabungan partai politik dalam Pemilihan Wali Kota (Pilwalkot) Bogor 2024

Hal itu disampaikan, Pengamat Politik dan Kebijakan Publik, yang juga Founder Lembaga Studi Visi Nusantara Maju (LS Vinus), Yusfitriadi.

Yusfitriadi menilai, dinamika dan eskalasi dalam Pilkada memang tidak serta merta linier dengan dinamika yang terjadi pada Pemilu 2024 kemaren. 

Baca Juga : Cawalkot Jenal Mutaqin Wakafkan 6 Mobil Ambulance Gratis Bagi Warga Kota Bogor

Sehingga tidak mesti koalisi-koalisi partai dan kekuatan politik yang terjadi pada Pemilu 2024 kemaren, harus terjadi juga di Pilkada serentak 2024. Kondisi ini lebih disebabkan dua hal. 

“Pertama, kepentingan lokal. Relasi dan kepentingan politik di tingkat lokal jelas berbeda dengan relasi di tingkat elit. Sedangkan Pilkada langsung akan menyentuh berbagai kepentingan local,” ungkap Yusfitriadi

Ketika partai-partai mempunyai kepentingan politik yang sama di tingkat lokal, maka akan mudah membangun koalisi. Tidak peduli apakah itu KIM adau KIB atau kekuatan lainnya. 

“Kedua, pilkada sangat ditentukan oleh figur. Ketika berbicara figur dalam konteks Pilkada, maka kita akan bicara tiga hal, yaitu kwalitatif, kwantitatif dan cuantitatif,” tuturnya. 

Kwalitatif bisa dimaknai dengan sejauh mana pengalaman menata pemerintah daerah, bagaiman tingkat ketokohan di tengah-tengah masyarakat dan mempunyai karakter perekat berbagai elemen yang ada di masyarakat. 

Baca Juga : Sukses Raih Surat Tugas PKB dan PDI Perjuangan, Dokter Rayendra Harap Partai Lain Menyusul

Adapun bicara kwantitatif, bagaimana tingkat elektabikitas dan peluang keterpilihan dalam pilkada. 

“Begitupun dengan cuantitatif, menjadi faktor penting dalam pertarungan di Pilkada. Sehingga saya melihat di hampir semua provinsi dan kabupaten atau kota komunikasi politik untuk kepentingan Pilkada sangat cair dan tidak terlalu terjebak pada koalisi partai politik ketika pemilu 2024,” terang Yusfitriadi

Yusfitriadi menyatakan, makanya itupun terjadi di Kota Bogor, komunikasi intens dibangun oleh PKS dan PDIP, di situ terlihat bagaimana pilkada memounyai karakteristik lokal. 

Namun, ketika PDIP dan PKS bergabung dan berkoalisi untuk mengusung pasangan calon di Pilkada Kota Bogor, kemungkinan besar Pilkada Kota Bogor akan diikuti dua pasangan calon, artinya head to head. 

“Karena PDIP sudah memberikan baju kepada Rayendra, maka potensi Rayendra direkomendasikan PDIP sangat besar. Sementara PKS sudah memastikan Atang Trisnanto yang akan diusung di Pilkada Kota Bogor 2024. Tinggal menyepakati saja siapa calon walikota dan siapa calon wakilnya,” tutur Yusfitriadi

Baca Juga : PPP, PKB, Nasdem dan Gerindra Kota Bogor Beri Sinyal Kuat Bakal Bentuk Koalisi Besar di Pilkada 2024

Namun, jika melihat tingkat elektabilitas sampai saat ini Rayendra jauh di atas Atang. Sehingga Atang berpotensi menjadi calon wakil walikota pendamping Rayendra. 

Potensi yang akan bergabung dengan kekuatan PDIP dan PKS ini di antaranya PKB, PPP dan Nasdem. 

Faksi kekuatan politik lainnya adalah dedie rachim yang sudah mengumpulkan empat partai politik, yakni PAN, Golkar, Demokrat dan PSI. 

“Sedangkan Partai Gerindra saya lihat tinggal nunggu waktu saja untuk bergabung saja dengan partai-partai yang sudah mengusung Dedie A. Rachim. Saat ini belum bergabung, karena pandangan saya hanya sedang menaikan posisi tawar untuk menyodorkan calon wakil walikotanya, Dedie Rachim,” kata Yusfitriadi

Sehingga pilihan calon wakil walikotanya Dedie Rachim pilihannya dari partai Gerindra atau partai Golkar. 

“Dan dua-duanya saya lihat akan mengusulkan kader internal partai sebagai calon wakil walikota pemdamping Dedie Rachim. Rusli dari partai Golkar atau Zaenal Mutaqin dari partai Gerindra. Dengan demikian Sendi dan Aji Jaya berpotensi "terlempar" lebih awal dari ring pertarungan Pilkada Kota Bogor,” ucap Yusfitriadi

Walaupun lanjut Yusfitriadi, kalau Sendi masih menunggu keputusan resmi partai Gerindra, karena termasuk salah seorang yang dipanggil oleh DPD Partai Gerindra Jawa Barat. 

“Namun, saya lihat yang sudah hampir bisa dipastikan saat ini tidak akan masuk "ring" arena Pilkada adalah Aji Jaya. Karena hampir semua partai yang sejak awal berharap merekomendasikannya, nampaknya saat ini sudah menutup pintu untuk Aji Jaya,” pungkas Yusfitriadi.