Ia juga menekankan pentingnya peran komunitas dalam mendukung keberhasilan inovasi ini. “Keterlibatan petani dan pelajar vokasi menjadi kunci. Kolaborasi ini tidak hanya memperkaya keterampilan, tetapi juga membuka peluang usaha baru berbasis ekonomi hijau,” tutur Agus.
Dalam pelaksanaannya, riset ini menggandeng petani, pelajar SMK/LKP, serta tokoh masyarakat sebagai bagian dari ekosistem inovasi. Selain menjadi ajang penguatan kapasitas petani, pendekatan ini juga membuka ruang terbentuknya ekosistem bisnis baru di sektor pertanian hijau berbasis komunitas.
Baca Juga: IPB University dan FORKAPI Akan Gelar Temu Ilmiah Nasional: Menyuarakan yang Tak Didengar
Produk hasil riset ini, berupa pupuk organik cair dan padat, akan masuk dalam skema Teaching Factory SV-IPB yang berorientasi pada hilirisasi hasil penelitian. Selain digunakan sebagai bahan ajar, produk ini juga akan disiapkan untuk komersialisasi sebagai solusi pertanian berkelanjutan di daerah lain.
Program ini merupakan bagian dari Berdikari Emas 2025, yang mendapat dukungan dari Direktorat Diseminasi dan Pemanfaatan Saintek, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, melalui pendanaan dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).
Comment