BOGOR, CEKLISSATU.COM– Kabupaten Bogor menjadi panggung bagi puluhan seniman untuk memperkenalkan karya dan gagasan seni rupa kontemporer kepada masyarakat luas. Melalui Pekan Seni Media Rupakala Bogor 2026, Gedung Tegar Beriman, Cibinong, disulap menjadi ruang pertemuan antara karya seni, komunitas kreatif, dan aktivitas warga.

Festival ini melibatkan hampir 80 seniman, lebih dari 10 komunitas, kolektif, dan instansi, serta menghadirkan 45 aktivasi selama satu pekan. Beragam kegiatan tersebut mencakup seni rupa, musik, sketsa, hingga berbagai praktik kreatif yang tumbuh di Bogor.

Direktur Festival Pekan Seni Media Rupakala Bogor, Fiki Rosalina, mengatakan, penyelenggaraan festival ini berangkat dari kegelisahan terhadap minimnya ruang dan platform bagi seniman seni rupa untuk menampilkan karya mereka kepada publik.

Menurutnya, festival seni rupa berskala besar selama ini masih terkonsentrasi di kota-kota yang telah memiliki infrastruktur, ekosistem, dan audiens seni yang mapan.

“Kami melihat perlunya memperbanyak visibilitas atau eksposur bagi para pelaku seni rupa. Dari kegelisahan itu, lahirlah Pekan Seni Media Rupakala Bogor,” ujar Fiki, Senin (26/10/2026).

Ia menilai Bogor memiliki potensi besar untuk menjadi ruang pertumbuhan seni dan budaya. Meski kerap dipandang sebagai kota satelit penyangga Jakarta, perkembangan komunitas, pameran, dan kegiatan kreatif di Bogor menunjukkan bahwa daerah ini memiliki ekosistem seni yang terus bergerak.

Karena itu, pemilihan Bogor bukan semata-mata didasari kedekatan personal Fiki yang lahir di kota tersebut, melainkan juga keinginan membuka kesempatan lebih luas bagi seniman di luar pusat-pusat seni yang sudah mapan.

Melalui festival ini, masyarakat diajak mengenal seni rupa kontemporer yang tidak lagi terbatas pada lukisan, patung, atau gambar. Pengunjung dapat menemukan beragam pendekatan, mulai dari instalasi, video art, sound art, karya interaktif, hingga karya berbahan kain dan material organik.

Fiki berharap, pengalaman tersebut dapat membuat seni rupa kontemporer terasa lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.

“Harapannya, masyarakat bisa memiliki pengalaman baru tentang bagaimana menikmati seni rupa. Seni kontemporer sudah berkembang sangat jauh, dan seniman Indonesia juga sudah banyak berkarya hingga tingkat nasional maupun internasional,” katanya.

Kurator Pekan Seni Media Rupakala Bogor, Hafiz Rancajale, menjelaskan bahwa festival ini mengusung gagasan kuratorial yang menempatkan Bogor sebagai mandala, yakni ruang yang menjadi pusat pertemuan pengetahuan dan pemantik respons terhadap berbagai persoalan.

Menurut Hafiz, Bogor tidak hanya memiliki sejarah sebagai kota perkebunan dan tempat peristirahatan, tetapi juga mempunyai peran penting dalam perkembangan pengetahuan.

Gagasan tersebut diterjemahkan melalui karya-karya yang menghadirkan beragam lapisan sejarah dan kehidupan kontemporer, mulai dari botani, arsip kolonial, hingga praktik seni berbasis komunitas.

Pameran ini juga mempertemukan pendekatan artistik konvensional, seperti lukisan, gambar, cat air, dan tinta Cina, dengan praktik seni yang memanfaatkan teknologi, bunyi, interaksi, serta riset sosial dan lingkungan.

Salah satu pendekatan yang dihadirkan adalah karya berbasis riset komunitas mengenai persoalan lingkungan di Kalimantan. Kehadiran karya tersebut memperlihatkan bahwa seni tidak hanya berfungsi sebagai ekspresi visual, tetapi juga dapat menjadi medium untuk membaca dan merefleksikan persoalan masyarakat.

Hafiz menilai, penyelenggaraan pameran di Gedung Tegar Beriman memberikan pengalaman tersendiri karena ruang tersebut merupakan tempat berkumpul dan berinteraksinya warga.

Ia berharap, pemanfaatan ruang publik sebagai lokasi pameran dapat menjadi contoh bagi perkembangan kegiatan seni di masa mendatang.

Dari sisi artistik, Artistic Director Sigit Darmawan menjelaskan bahwa penataan pameran dirancang berdasarkan gagasan mandala yang menjadi landasan kuratorial.

Struktur bangunan yang dibiarkan terlihat menjadi bagian dari pendekatan desain untuk menggambarkan keterhubungan antarelemen, sekaligus menghadirkan keseimbangan antara unsur yang berwujud dan tidak berwujud.

Penataan ruang juga mempertimbangkan kebutuhan setiap karya, ketinggian dinding, alur pergerakan pengunjung, serta narasi arsitektural yang ingin disampaikan.

Dengan pendekatan tersebut, ruang pamer tidak hanya berfungsi sebagai tempat memajang karya, tetapi juga menjadi bagian dari pengalaman pengunjung dalam memahami gagasan di balik pameran.

Sementara itu, perwakilan Yayasan Reka Bogor, Georgian Marcelo atau Georgi, menyebut festival ini sebagai momentum yang telah lama dinantikan para seniman lokal.

Yayasan Reka Bogor yang selama lima tahun terakhir mewadahi kolaborasi seniman dan pelaku kreatif turut mengajak seniman Bogor berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.

“Ini menjadi lebarannya para seniman. Acara ini sudah kami tunggu sejak lama karena menjadi wadah besar bagi seniman lokal untuk menunjukkan karya terbaik mereka kepada publik yang lebih luas,” ungkap Georgi.

Ia berharap, festival ini dapat memperkuat ekosistem seni di Bogor sekaligus membuka lebih banyak kesempatan bagi komunitas kreatif untuk berkolaborasi dan memperkenalkan karya mereka.

Pekan Seni Media Rupakala Bogor diselenggarakan oleh Kementerian Kebudayaan dengan dukungan Indonesia Raya dan LPDP, serta Pemerintah Kabupaten Bogor yang memfasilitasi penggunaan Gedung Tegar Beriman.

Melalui penyelenggaraan ini, seni diharapkan tidak hanya hadir di galeri atau ruang pamer khusus, tetapi juga tumbuh di tengah kehidupan sehari-hari masyarakat. Gedung Tegar Beriman pun menjadi ruang perjumpaan baru, tempat warga dan seniman saling mengenal melalui karya, gagasan, dan pengalaman.