BOGOR, CEKLISSATU - Tiga dua satu, waktu dihitung mundur saat perubahan waktu dari tanggal 1 November ke tangg 2 November 2022. Perubahan itu bukanlah seremoni biasa bagi perkembangan media, melainkan semacam manifesto perkembangan dunia televisi (tv) digital yang menggantikan keberadaan tv analog yang telah menarik perhatian masyarakat sejak perang dunia kedua. 

Perubahan adalah keniscayaan, itulah kalimat yang seolah menjadi pernyataan tunggal untuk membiasakan diri akan perubahan yang kini sudah merasuk dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat. 

Karya dari John Logie Baird yang merupakan seorang penemu, insinyur listrik, dan inovator dari Skotlandia ini bukanlah media biasa, sejak kelahirannya meski hanya berwarna hitam putih, namun TV menjadi media hiburan masyarakat luas karena berhasil memadukan antara suara dan gambar bergerak. 

Tidak hanya itu, media yang berbentuk bangun datar kontak dengan bangun ruang tabung ini juga menjadi media penyebar informasi dan berita. Bahkan, hingga hari ini, TV menjadi media yang paling ditunggu dalam hal validasi berita karena prosesnya yang masih memakan waktu, tidak seperti media online lainnya yang terkadang cepat namun kurang akurat. 

IMG-20221104-WA0184.jpg
Suhairil Anwar Pimpinan Redaksi Ceklissatu.com

TV digital bukan hanya bicara perubahan dan kemajuan, namun juga fasilitas yang perlu dimiliki oleh seluruh pengguna yaitu dengan tv layar datar atau jaringan internet yang mendukung. Memang, TV biasa masih bisa mengakses TV digital, namun perlu alat-alat tambahan seperti set tv box atau STB. 

Namun, apakah pemerintah lupa. Meski katanya kini masyarakat sudah memasuki kemajuan teknologi empat titik nol, namun masih banyak masyarakat di berbagai daerah yang jauh dari perkembangan teknologi komunikasi. Jangan pun TV digital serta akses internet, Indonesia yang merupakan negara kepulauan ini masih banyak dihuni oleh masyarakat yang kalangan bawah yang minim fasilitas tv bahkan di beberapa wilayah mereka harus rela merogoh kocek lebih dalam untuk memberi antena besar agar bisa menikmati hiburan yang disajikan oleh tv seperti yang biasa dinikmati oleh masyarakat perkotaan. 

Lagi-lagi, kita harus melihat kelompok marginal menggigit jari dan harus kembali naik ke permukaan mengenai ketimpangan. Dan kali ini, ketimpangan itu bukan terlihat dari akses hukum atau pendidikan, tetapi akses hiburan yang merupakan salah satu kebutuhan. 


Salam,


Pimpinan Redaksi Ceklissatu.com


Suhairil Anwar

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS