BOGOR, CEKLISSATU - Hari ini bukan hari yang biasa. Hari ini memiliki tanggal 20 Mei dan setiap 20 Mei, kita memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Tanggal yang mengingatkan kita ketika para pemuda Boedi Oetomo memutuskan bahwa kebangkitan bangsa dimulai dari kesadaran bersama. Mereka melawan kebodohan dan keterpecahan dengan satu senjata pengetahuan pada tahun 1908.
118 tahun kemudian, medan perangnya berubah. Kini kita tidak lagi melawan penjajah bersenjata, tetapi melawan banjir informasi yang tak henti. Ironisnya, di tengah kemudahan mengakses data, hoaks justru lebih cepat menyebar daripada fakta. Satu tangkapan layar palsu, satu narasi provokatif, cukup untuk membuat ribuan orang panik, marah, atau saling curiga.
Ini bukan sekadar masalah “salah kirim chat”. Informasi palsu adalah racun sosial. Ia merusak kepercayaan publik, memecah kohesi masyarakat, dan membuat kebijakan publik berjalan di atas dasar yang keliru. Kita melihatnya terjadi berulang: dari isu kesehatan, bencana alam, hingga proses demokrasi. Setiap kali, masyarakat jadi korban.
Di titik inilah semangat kebangkitan nasional harus dimaknai ulang. Kebangkitan hari ini bukan hanya soal pertumbuhan ekonomi atau infrastruktur, tetapi soal kebangkitan nalar kritis. Bangsa yang bangkit adalah bangsa yang mampu membedakan mana fakta, mana opini, dan mana rekayasa.
Dan di sinilah peran media terpercaya menjadi penting.
Media yang bekerja dengan kaidah jurnalistik tidak mengejar klik dengan cara memelintir fakta. Ia memeriksa sumber, memberi ruang klarifikasi, dan berani meralat jika keliru. Proses ini memang lambat dibanding kecepatan hoaks, tetapi hanya dengan cara inilah kebenaran bisa dijaga.
Sayangnya, banyak masyarakat masih terjebak pada logika “yang penting viral”. Padahal viral tidak sama dengan benar. Kecepatan tanpa verifikasi hanya melahirkan kebingungan kolektif.
Comment