Ada satu lapisan luka lain yang jarang dibicarakan.
Firman tumbuh sebagai anak yang hadir di dunia tanpa pernah berdampingan dengan bayangan ayah. Bukan karena lelaki itu pergi dan menghilang, tetapi karena waktu mereka selalu berjalan pada poros yang tak pernah beririsan seperti dua jarum jam yang saling kejar namun tak pernah sekaligus berhenti di angka yang sama.
Ayahnya bekerja melintasi kota. Dan ketika lelaki itu pulang menapaki teras rumah setelah berminggu-minggu merantau, Firman justru tengah berpisah dalam sunyi pesantren belajar kitab, tidur di ruang sempit, dan membiasakan diri dengan rindu yang tak pernah punya bentuk.
Selama lima tahun, waktu demi waktu berlalu seperti pasir yang jatuh dari dua jam yang berbeda. Sang ayah menunggu di rumah dengan kursi kosong di ruang tamu. Sang anak menunggu di pesantren dengan doa yang tak pernah tahu kepada siapa harus disampaikan. Hingga rasa sayang yang tumbuh di antara mereka pun terasa janggal seperti pohon yang akarnya hanya satu, seperti rindu yang tak pernah sampai, seperti dua orang yang saling menyebut nama tetapi tak pernah benar-benar saling mengenal.
Baca Juga: Diduga Menjual Minuman Mengandung Alkohol, Salah Satu Kafe di Katulampa Disegel Sementara
"Gue ngerasa sih sayangnya beda ya," ucap Firman pelan, suaranya seperti pecahan kaca yang berusaha direkatkan. "Dulu aku kurang deket sama sosok ayah karena dipisahkan. Waktu ayah di rumah, aku di pesantren. Jadi momen buat ngobrol itu susah banget."
"Padahal semua kebutuhan dan fasilitas selalu terpenuhi. Tapi secara kedekatan, kurang. Mungkin itu dari sisi keluarga," tambahnya.
Firman tidak sendiri.
Ada ribuan bahkan jutaan anak laki-laki di negeri ini yang tumbuh dengan luka yang sama luka yang jarang dibicarakan karena tidak meninggalkan bekas di kulit. Data yang dirujuk oleh UNICEF menunjukkan bahwa sekitar 3 dari 10 anak laki-laki di Indonesia tumbuh tanpa kedekatan yang cukup dengan figur ayah. Bukan berarti mereka yatim. Ayah mereka hidup, bekerja, pulang-pergi antar kota, namun entah mengapa waktu dan jarak selalu lebih berkuasa dari niat untuk bertemu.
Comment