Tahun 2023 menjadi pintu baru. Firman mulai berkembang. Perlahan, seperti tunas yang muncul setelah hujan, ia mulai berani bersuara.
Perubahan yang dialami Firman tidak terjadi secara instan. Ada proses panjang untuk membangun kembali kepercayaan diri yang sempat runtuh. Dalam perspektif komunikasi, proses ini berkaitan dengan kemampuan individu dalam mengelola emosi serta membangun afirmasi diri sebagai fondasi kepercayaan diri.
Ia belajar public speaking dari nol. Dari sekadar berani bicara di depan kelas, lalu ikut organisasi, lalu naik ke panggung kecil, lalu panggung yang lebih besar. Ia jatuh berkali-kali. Ada saat-saat ia gagal, salah ucap, atau grogi di tengah jalan. Namun, ia tidak berhenti.
Pandangan ini sejalan dengan yang disampaikan oleh Nadia Amalia, S.I.Kom., M.A.P., dosen Ilmu Komunikasi Universitas Djuanda, bahwa rasa gugup di tengah trauma adalah hal yang wajar.
"Sulit untuk menghilangkan rasa gugup di tengah rasa trauma. Namun, ketika rasa percaya diri mulai muncul, seseorang perlu menenangkan diri terlebih dahulu. Untuk menumbuhkan ketenangan tersebut, diperlukan afirmasi positif agar rasa percaya diri dapat tumbuh secara perlahan," tegasnya.
Proses inilah yang perlahan dijalani Firman hingga akhirnya mampu berdiri di atas panggung untuk menyampaikan suaranya dengan lebih percaya diri dan menginspirasi banyak anak-anak di Indonesia.
penulis: Keysha Zahra Alzena, Hanna Kulsum, Nazwa. (Mahasiswa Program Studi Sains Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Djuanda Bogor)
Comment