"Dulu tuh gue kayak punya banyak cerita di kepala, tapi gak ada yang keluar. Kayak ada tembok di depan mulut gue. Mau ngomong aja rasanya berat banget," kenang Firman.
Ia tidak punya teman. Di sekolah dasar, ia selalu sendiri. Tidak ada yang duduk di sampingnya saat istirahat. Tidak ada yang meminjamkan pensil saat ia lupa membawa. Dunianya sempit hanya berisi dirinya sendiri dan keheningan yang berkepanjangan.
Kesunyian itu tidak datang begitu saja. Ada luka yang membuatnya semakin menarik diri.
Firman mengalami perundungan verbal maupun non-verbal sejak Sekolah Dasar, terus berlanjut hingga SMP dan SMA. Ejekan, cemoohan, gunjingan di belakang, hingga eksklusi sosial semua ia rasakan. Bukan hanya dari teman sebaya, tetapi kadang juga dari lingkungan yang seharusnya menjadi tempatnya berlindung.
"Dulu sebelum ngomong aja udah takut duluan. Takut diketawain. Karena pas kecil, pas gue ngomong suka diejek. Akhirnya mending diem aja, lebih aman," ujarnya.
Baca Juga: Bangga Cipari - Cilacap, Paramedis 666 Sukses Tampil Megah di Panggung Blacken Ritual Asia's Jakarta
Data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menunjukkan bahwa kasus perundungan di kalangan anak dan remaja masih tinggi setiap tahunnya. Perundungan verbal seperti mengejek, menghina, atau merendahkan adalah bentuk yang paling sering tidak dilaporkan karena dianggap "biasa saja" oleh orang dewasa.
Padahal, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menegaskan bahwa perundungan dapat meninggalkan luka psikologis yang tak kasat mata. Seperti retakan halus pada kaca, luka itu bisa menganga perlahan dan menghancurkan kepercayaan diri seseorang dari dalam.
Firman merasakan itu semua. Perlahan, rasa percaya dirinya terkikis. Seperti tebing yang runtuh diterpa ombak, sedikit demi sedikit, hingga yang tersisa hanya sisa-sisa keberanian yang nyaris habis.
Comment