JAKARTA, CEKLISSATU.COM -- Potensi perbedaan penetapan awal Ramadan di Indonesia merupakan hal wajar dan sering terjadi, karena perbedaan metode penentuan awal hijriah. 

Hal tersebut disampaikan Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kementerian Agama (Kemenag), Arsad Hidayat.

“Kalau berbeda itu biasa gitu, karena cara pandang kemudian cara penetapan dari ormas-ormas Islam tersebut tidak sama,” ucap Arsad kepada wartawan, beberapa waktu lalu.

Baca Juga: Taste of Nusantara Whiz Prime Bogor, Paket Spesial Buka Puasa Sajian khas Indonesia yang Autentik

Selain itu lanjut Arsad, terdapat sejumlah pendekatan yang dipakai dalam penentuan awal Ramadan.

Menurutnya, sebagian ormas Islam memakai metode hisab, kemudian sebagian menggunakan Rukyatul hilal. Sedangkan pendekatan terbaru mengacu pada konsep Kalender Hijriah Global Tunggal.

“Kalau istilahnya Prof Thomas Djamaluddin (astronom BRIN) itu ada hilal global dan hilal lokal. Jelas kalau hilal lokal dengan hilal global, itu sudah pasti berbeda,” bebernya.

Baca Juga: Baznas Tetapkan Besaran Zakat Fitrah dan Fidyah Ramadan 1447 Hijriah, Berikut Ini Rinciannya

Arsad mengatakan, pemerintah melalui Kemenag memiliki mekanisme sidang isbat sebagai forum musyawarah untuk menyikapi perbedaan tersebut. Pada sidang isbat, seluruh organisasi kemasyarakatan Islam diundang untuk menyampaikan pandangan masing-masing.

“Kita undang seluruh ormas Islam, baik Muhammadiyah, NU, Persis, dan yang lain. Kita dengarkan pandangan mereka, kemudian dimusyawarahkan dan diambil keputusan yang maslahat,” jelasnya.