Dalam kesempatan tersebut, Jumhur juga mengaku semakin memahami potensi besar bambu sebagai solusi lingkungan sekaligus identitas budaya Indonesia. Ia menyebut bambu memiliki nilai strategis mulai dari konservasi lahan, penyerapan karbon, hingga penguatan ekonomi masyarakat.

Tak tanggung-tanggung, Jumhur langsung menantang Yayasan Bambu Indonesia dan komunitas pecinta bambu untuk menyiapkan gerakan pembibitan besar-besaran.

“Kita punya sekitar 12,4 juta hektare lahan kritis. Kalau gerakan ini menjadi gerakan nasional, mungkin jutaan bahkan puluhan juta bambu bisa ditanam dari Sabang sampai Merauke,” katanya.

Baca Juga: Peduli Lingkungan, Kampoong Ecopreneur Bagikan 108 Hewan Kurban bagi Santri Penghafal Qur'an Pakai Besek Bambu 

Pada kegiatan tersebut, sekitar 5.000 bambu ditanam secara simbolis. Namun, pemerintah menargetkan gerakan ini berkembang menjadi program nasional dengan dukungan berbagai pihak, termasuk komunitas lingkungan, pemerintah daerah, hingga lembaga internasional.

Menurut Jumhur, Kementerian Lingkungan Hidup tidak bisa bekerja sendiri dalam memulihkan lingkungan. Peran pemerintah lebih kepada mengorkestrasi gerakan bersama seluruh elemen masyarakat.

“Gerakan lingkungan bukan milik pemerintah saja, tapi milik masyarakat. Dan kegiatan hari ini menjadi bukti nyata kolaborasi itu,” ujarnya.

Ia juga mengapresiasi peran Yayasan Bambu Indonesia, komunitas sungai, pesantren, serta pegiat lingkungan yang terus konsisten mengedukasi masyarakat tentang pentingnya pelestarian alam melalui bambu.