JAKARTA, CEKLISSATU.COM - Banyak orang mengira rambut rontok hanya disebabkan oleh penggunaan sampo yang tidak cocok atau perawatan rambut yang kurang tepat.
Namun, penelitian terbaru mengungkap bahwa depresi dan gangguan kesehatan mental lainnya juga dapat menjadi pemicu kerontokan rambut.
Bahkan, hubungan keduanya bersifat dua arah, di mana depresi dapat menyebabkan rambut rontok, sementara kerontokan rambut berlebihan juga berpotensi meningkatkan risiko depresi.
Fakta medis menunjukkan bahwa gangguan mental seperti stress atau depresi berat tidak hanya mempengaruhi suasana hati, tetapi juga dapat memicu kerontokan rambut yang signifikan.
Baca Juga: Mudah Lupa di Usia Muda: Kenali Gejala Demensia Dini hingga Depresi Ringan
Lebih menarik lagi keduanya saling berhubungan (bidirectional) antara depresi dapat menyebabkan rambut rontok, dan sebaliknya, mengalami kerontokan rambut juga dapat memicu depresi.
Penelitian ini diungkap pada tahun 2025 oleh jurnal Clinical, Cosmetic and Investigational Dermatology , Pransic.
Rambut rontok tipe alopecia areata (kebotakan berpola) terbukti secara akurat meningkatkan risiko depresi berat.
Artinya, bukan sekadar kebetulan atau pengaruh kesalahan pemakaian saja namun secara ilmiah terbukti bahwa seseorang yang mengalami kerontokan rambut memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk mengembangkan gangguan depresi.
Baca Juga: Sering Capek dan Burnout? Ini Rekomendasi Me Time yang Wajib Dicoba
Penelitian lain yang melibatkan 46 wanita dengan pola kerontokan rambut khas wanita (Female Pattern Hair Loss) juga menunjukkan hasil serupa.
Para pasien ini memiliki tingkat stres kronis dan depresi yang secara signifikan lebih tinggi dibandingkan kelompok pengontrol.
Bahkan, peneliti menemukan adanya penanda biologis dalam darah (BDNF) yang dapat dipakai untuk memprediksi risiko depresi pada pasien kerontokan rambut.
Baca Juga: Pencarian WN Taiwan di Kepulauan Seribu, Tim SAR Gabungan Kerahkan Tujuh Kapal
Tidak hanya satu arah, fakta lainnya juga terbukti secara ilmiah bahwa terdapat korelasi antara gangguan mental seperti depresi dan stres kronis dapat menyebabkan rambut rontok.
Penelitian mendel randomisasi terbaru yang menggunakan data genetik dari ribuan partisipan di Eropa membuktikan bahwa depresi berat meningkatkan risiko seseorang mengalami alopecia areata hingga 59 persen.
Diantaranya terdapat pengelompokan jenis rambut yang memiliki persentase cukup tinggi antara korelasi gangguan kesehatan mental dengan kerontokan pada rambut.
Baca Juga: Ingin Tampil Gaya, Cobain 5 Tren Rambut Populer di Tahun Ini`
Diantaranya Elogen Effluvium ketika stres menyebabkan rambut memasuki fase istirahat lebih cepat, dan beberapa bulan kemudian rambut-rambut ini akan rontok secara bersamaan.
Namun kondisi ini biasanya bersifat sementara. Lalu ada Alopecia Areata merupakan kondisi autoimun di mana sistem kekebalan tubuh menyerang folikel rambut, menyebabkan kerontokan berbentuk bercak-bercak.
Stres sering menjadi pemicu atau memperburuk kondisi ini.
Serta Trikotilomania yaitu angguan psikologis dimana seseorang memiliki dorongan kompulsif untuk mencabuti rambutnya sendiri bahkan seringkali sebagai respons terhadap stres atau kecemasan.
Baca Juga: Tanpa Disadari, Menggeretakkan Gigi Saat Tidur Bisa Jadi Tanda Stres, Ini Penyebab dan Solusinya
Namun hal ini bukan berarti menjadi kesepakatan akan diagnosa awal terkait kerontokan rambut yang cukup intens setiap harinya.
Pastikan untuk membedakan antara kerontokan rambut normal dan yang mengindikasikan masalah serius. Menurut Pusat Rambut Rumah Sakit Bundang Universitas Nasional Seoul, orang normalnya kehilangan 50 hingga 70 helai rambut per hari hal ini masih dalam batas wajar.
Khawatirkan jika kerontokan dapat lebih dari 100 helai per hari secara konsisten, terutama jika disertai dengan perubahan suasana hati yang signifikan (murung, kehilangan minat, mudah marah), gangguan tidur dan nafsu makan, penurunan energi dan motivasi, perasaan tidak berharga atau putus asa, dan perilaku kompulsif (keinginan tak tertahankan untuk mencabut rambut).
Indikasi tersebut harus segera ditangani dengan menghubungi tenaga profesional terdekat.
(MG/Ade Pramitha)
Comment