JAKARTA, CEKLISSATU.COM - Banyak anak muda saat ini mengeluhkan "otak kena selective amnesia" atau mudah lupa di tengah padatnya aktivitas. Kondisi dimana mendadak lupa akan aktivitas yang sudah dilakukan, seperti lupa menyimpan smart phone, lupa sudah minum atau belum setelah makan, bahkan lupa akan agenda penting di suatu hari.

Kondisi mudah lupa tersebut kerap kali dianggap remeh sebagai atau menganggapnya sebuah kelalaian atau kelelahan. Namun di balik keluhan sepele ini, bisa saja tersembunyi dua kemungkinan yaitu demensia dini (early-onset dementia) yang jarang terjadi tetapi nyata adanya, atau depresi ringan yang justru lebih umum dialami generasi muda.

Demensia selama ini dikenal sebagai penyakit kelompok lanjut usia. Namun, kenyataan medis menunjukkan bahwa demensia bisa menyerang individu di bawah usia 65 tahun, bahkan dalam kasus ekstremnya di usia 30-an atau lebih muda.

Baca Juga: Pengidap Diabetes Masih Bisa Makan Manis! Berikut Rekomendasi Sumber Glukosa Alami untuk Tubuh

Dalam dunia kedokteran, kondisi ini dikenal sebagai young-onset dementia atau early-onset dementia atau demensia onset dini.

Biasanya, penderita demensia dini mulai mengalami gejala pada usia 40 hingga 50 tahun, dan seringkali memiliki faktor risiko genetik yang kuat. 

Selain faktor genetik dan gaya hidup tidak sehat seperti kurang olahraga, konsumsi alkohol, merokok, makanan tinggi lemak dan gula, demensia dini juga bisa disebabkan oleh gangguan aliran darah ke otak, Kerusakan pada bagian depan otak, Penyakit Parkinson, Huntington, multiple sclerosis, atau infeksi HIV serta penyakit Alzheimer yang kerap menjadi penyebab kebanyakan.

Baca Juga: 5 Makanan Kaya Air dan Serat untuk Menjaga Gula Darah Stabil, Cocok Untuk Menu Diet Sehat Penderita Diabetes

Tantangan terbesar dalam mendeteksi demensia dini adalah gejalanya yang kerap samar dan mirip dengan masalah psikologis umum, seperti stres atau depresi . Akibatnya, banyak penderita mengalami salah diagnosis selama bertahun-tahun, karena tenaga medis dan keluarga tidak menganggap gejala seperti lupa atau perubahan suasana hati sebagai sesuatu yang serius pada usia muda.

Gejala yang bisa menjadi antisipasi di antaranya kesulitan berbicara, memori jangka pendek yang begitu intens, perubahan prilaku dan suasana hati, serta penurunan performa kerja. keluhan sering lupa pada usia muda justru disebabkan oleh depresi ringan yang biasanya timbul dari peristiwa-peristiwa menumpuk di masa lalu.

Depresi paling sering terjadi pada tahap awal demensia, tetapi juga bisa berdiri sendiri sebagai penyebab utama gangguan memori. 

Baca Juga: ‎Jangan Langsung Panik, Ini yang Harus Dilakukan Saat Gempa Terjadi di Rumah ‎

Hal ini yang menjadikan ketika seseorang mengalami depresi, terjadi perubahan kimiawi di otak yang mempengaruhi konsentrasi, fokus, dan kemampuan mengingat. Otak yang "sibuk" dengan pikiran negatif, kecemasan, atau rasa lelah berkepanjangan akan kesulitan memproses informasi baru dengan baik.

Perlu digari bawahi deteksi dini dan diagnosis yang tepat merupakan bentuk awareness paling mudah. Semakin dini penyakit demensia dikenali, semakin baik hasil penanganannya dibandingkan penyakit yang sudah lanjut.

Jika hal itu ditemui pada lingkungan sekitar seperti mulai mengalami gangguan memori, perubahan perilaku, atau kesulitan menyelesaikan tugas sehari-hari secara konsisten, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter.

(MG/Ade Pramitha)