KABUPATEN BOGOR, CEKLISSATU.COM – Di antara riuh kendaraan dan kesibukan warga Jasinga, tersembunyi sebuah cerita rasa yang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang singgah dan mencicipi. 

Namanya Warsun Tangsi, warung makan sederhana yang berdiri bersahaja di samping gedung BRI Unit Jasinga, namun menyimpan pesona rasa khas Sunda yang sulit dilupakan.

Bagi pecinta lalapan, tempat ini lebih dari sekadar warung makan, ia adalah rumah.

Di meja-meja kayu yang hangat oleh cahaya senja, lalapan bukan sekadar pelengkap, melainkan sajian utama. Bukan pula lalapan biasa.

Baca Juga: Aston Sentul dan ABC Food Service Hadirkan Aktivitas Kuliner Kreatif untuk Anak-anak

Di sini, lalapan disajikan dalam sebuah keranjang besar, penuh warna dan tekstur daun kemangi, leunca, selada, timun, kol, bahkan petai cina yang menggoda.

“Di tempat lain, lalapan cuma jadi hiasan. Tapi di sini, lalapan itu raja meja makan,” ujar salah satu pelanggan bernama kang Wiji, sambil mencelupkan daun segar ke sambal dadakan.

Warsun Tangsi, nama yang unik, gabungan antara “Warung Sunda” dan lokasi bekas tangsi atau barak tua yang sudah tidak ditempati lagi.

Pemiliknya, Kang Ridwan, mewarisi resep dari pengalaman dan orang tua nya. Kini, ia menghidangkan masakan rumahan yang tidak hanya memanjakan lidah, tapi juga membangkitkan nostalgia.

Baca Juga: Oka "Lupus" Sugawa: dari Dunia Hiburan, Motor Antik hingga Duta Sampah yang Menginspirasi

"Orang-orang datang ke sini bukan cuma karena lapar, tapi juga karena rindu," sambung Wiji pelan, sembari menyusun ikan asin goreng di atas piring.

Menu yang ditawarkan pun sederhana tapi mengena, ayam goreng, ikan peda, sambal terasi, tumis genjer, hingga pepes tahu.

Minumannya? Es goyobod, teh tawar panas, atau jeruk peras segar yang menyegarkan di siang hari.

Setiap suapannya seperti bercerita, bahwa masakan Sunda sejati tidak membutuhkan kemewahan, cukup dengan kesegaran, kejujuran, dan cinta dalam setiap bumbu.

Baca Juga: Mengenal Sosok Haji Abbas, Pemilik Rumah Makan Sunda Top di Ciawi

Bagi siapa pun yang melewati Jasinga, Warsun Tangsi bukan hanya tempat mengisi perut ia adalah pengalaman.

Sebuah ruang singgah di mana lalapan berbicara lebih dari sekadar rasa, melainkan tentang budaya, kebersamaan, dan rindu akan kampung halaman.