JAKARTA, CEKLISSATU.COM - Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu), Suahasil Nazara menegaskan bahwa pengelolaan utang Indonesia masih berada pada level aman dan sehat.
Pemerintah terus menjaga kredibilitas fiskal dengan memastikan rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) tetap terkendali di kisaran 39–40 persen, jauh di bawah batas maksimal 60 persen.
Menurutnya, defisit anggaran bukanlah tanda kondisi fiskal yang tidak sehat selama pengelolaan utang dilakukan secara hati-hati, produktif, dan berkelanjutan. \
"Mengapa ada defisit? Karena belanja lebih besar dari pendapatan. Tapi itu aman atau nggak? Aman, selama utangnya dikelola dengan rapi, produktif, dia sustainable, diperhatikan, bagaimana pasar utangnya, bagaimana pasar SBN-nya, bagaimana instrumen SBN-nya mendapatkan confidence dari para investor atau tidak," ungkapnya dikutip dari laman Kemenkeu, Selasa (21/10/2025).
Dia menyampaikan, pemerintah memastikan pengelolaan utang dilakukan secara kredibel untuk menjaga kepercayaan pasar.
"Ruang itu ada. Tapi kalau ruang ada kan bukan berarti terus kita menuju sana aja. Nggak juga. Ini adalah pengelolaan utang yang sangat hati-hati dilakukan oleh negara ," jelasnya.
Baca Juga: Sri Mulyani: Belanja Negara Berkualitas, Tingkatkan Ketahanan Fiskal
Lebih lanjut, dia juga menjelaskan bahwa kunci menjaga stabilitas utang negara terletak pada pertumbuhan ekonomi yang kuat dan pengelolaan instrumen utang yang baik.
Tren penurunan yield Surat Berharga Negara (SBN) juga menjadi sinyal positif. Yield seri benchmark 10 tahun sempat berada di bawah 6%, mencerminkan meningkatnya kepercayaan investor terhadap pengelolaan fiskal Indonesia.
Pemerintah juga menargetkan defisit anggaran tahun 2025 tetap terkendali di level 2,78% terhadap PDB.
Baca Juga: Insentif Fiskal Rp3 T untuk Daerah Berkinerja Baik Bakal, Diberikan Dalam 2 Tahap
Proyeksi ini mencerminkan upaya menjaga kredibilitas fiskal dengan tetap memperkuat belanja negara untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.
Comment