JAKARTA, CEKLISSATU - Adanya ketidakpastian ekonomi global, Bank Dunia mencatat tingkat inflasi pangan domestik di banyak negara tinggi. 

Food Security World Bank melaporkan, periode November 2022 tingkat inflasi domestik yang datanya diambil dari laporan indeks harga konsumen (IHK) tiap negara masih tinggi di mayoritas negara berpendapatan rendah, menengah, hingga tinggi.

Banyak negara mencatatkan inflasi di rentang 50 hingga 30 persen, bahkan ada yang melebih 30 persen. Jika dilihat berdasarkan wilayahnya, negara di kawasan Afrika menjadi yang paling terdampak inflasi pangan.

Baca Juga : Imbauan Mendagri Tak Diiringi Surat Resmi, Pemkab Bogor Belum Bisa Salurkan Bantuan untuk Cianjur 

Tingginya harga komoditas pangan di banyak negara diikuti oleh harga bulir padi-padian yang masih tinggi dan fluktuatif

Adapun negara dengan tingkat inflasi tertinggi secara tahunan (year on year/yoy) hingga awal November 2022 adalah sebagai berikut:

Zimbabwe 321 persen

Lebanon 208 persen

Venezuela 158 persen

Turkiye 99 persen

Argentina 87 persen

Sri Lanka 86 persen

Iran 84 persen

Rwanda 41 persen

Suriname 40 persen

Laos 39 persen

Berdasarkan laporan Agricultural Market Information System (AMIS) Market Monitor, ketidakpastian kelanjutan kesepakatan Black Sea Grain Initiative menjadi salah satu penyebab harga bulir menjadi sangat volatil.

International Grains Council Grains and Oilseeds Index menunjukkan, harga bulir meningkat 1 bulan secara bulanan pada Oktober lalu. Ini diikuti dengan kenaikan harga gandum sebesar 3 persen.

"Dipengaruhi oleh meningkatnya ketegangan Rusia dan Ukraina, serta kabar penarikan sementara Rusia dari keberlanjutan Black Sea Grain Initiative," tulis laporan tersebut. 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS