JAKARTA, CEKLISSATU - IBM dikabarkan akan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap ribuan karyawan. Langkah PHK menyusul serangkaian pemangkasan tenaga kerja secara massal di antara perusahaan teknologi ternama dunia, salah satunya Google, Amazon, Microsoft, hingga Twitter.
Perusahaan berencana untuk PHK karyawan sekitar 3.900 pekerja, yang mewakili 1,5 persen dari tenaga kerja IBM. Kabar PHK tersebut sebelumnya telah dipublikasikan oleh Bloomberg.
Mengutip New York Times, CEO IBM Arvind Krishna mengatakan penyebab PHK yang dilakukan IBM, merupakan dampak dari penjualan aset. Selain itu, bisnis IBM juga mengalami kesulitan saat ini.
Pada 2021, IBM memisahkan bisnis layanan teknologi menjadi perusahaan terpisah, Kyndryl, dan tahun lalu, IBM menjual bisnis analitik data perawatan kesehatannya.
Baca Juga : Setelah Google, Giliran Spotify Bakal PHK Karyawan
“Kami akan mengambil mengalokasikan dana 300 juta dollar AS pada kuartal pertama untuk membayar biaya pesangon karyawan,” ungkap Krishna dalam konferensi pers kinerja keuangannya pada Rabu, 25 Januari 2023 waktu setempat.
Langkah PHK tetap dilakukan perusahaan di tengah laporan pendapatan triwulanan yang melampaui perkiraan analis, didorong oleh pertumbuhan yang lebih tinggi dari perkiraan di segmen perangkat lunak dan infrastruktur perusahaan.
Melansir CNBC International, Kamis 26 Januari 2023 IBM telah menghasilkan USD 3,60 per saham, dan pendapatan sebesar USD 6,69 miliar atau sekitar Rp. 100,2 triliun, menurut data dari Refinitiv.
Laba bersih IBM juga naik 16 persen menjadi USD 2,71 miliar atau setara Rp. 40,5 triliun (asumsi kurrs Rp. 15.500 per USD).
Krishna mengakui jika tidak melihat adanya perlambatan dalam bisnis baru IBM. "Saya melihat klien kami memang ingin melakukan pengembangan baru," katanya.
Baca Juga : Google PHK 12.000 Karyawan, Pegawai Bakal Terima Pesangon 16 Minggu Gaji
Segmen perangkat lunak IBM juga membukukan penghasilan sebesar USD 7,29 miliar (Rp. 109,2 triliun), yang menghasilkan pertumbuhan hampir 3 persen dan di atas perkiraan analis yang disurvei oleh StreetAccount, sebesar USD 7,12 miliar.
Perusahaan teknologi itu juga memperoleh pendapatan dari konsultasi senilai USD 4,77 miliar (Rp. 71,3 triliun), naik 0,5 persen dan sedikit lebih rendah dari USD 4,8 miliar.
Adapun segmen infrastruktur IBM yang menghasilkan USD 4,48 miliar (Rp. 67 triliun), naik hampir 2 persen dan lebih dari perkiraan USD 4,18 miliar oleh StreetAccount.
Selain itu, pendapatan dari jajaran komputer mainframe IBM Z Systems juga melonjak 16 persen setelah model Z16 dirilis secara umum pada Mei 2022 lalu.
Comment