Setelah acara talkshow dan diskusi, acara dilanjutkan dengan workshop pembuatan loloh sehat dari Yuliani Djaya Negara (Founder dan CEO Bali Tangi). Semua peserta ikut mencoba 3 jenis loloh yang dibuat langsung di tempat. Selanjutnya juga ada workshop cara sanggul bali dan sanggul modifikasi dari Wadon Bali.
Ketua FKD Bali, Dr. Ni Putu Gatriyani, M.Pd. memberikan respon positif terhadap kegiatan ini. Kehadiran dalam forum ilmiah bertajuk “Krisis Ekologi dan Masa Depan Peradaban” menjadi pengalaman yang bermakna, khususnya dalam memperkuat diskursus tentang kearifan lokal sebagai landasan solusi ekologis yang berkelanjutan.” Ungkapnya.
Ia juga mengungkapkan “Momentum penandatanganan MOU dan PKS ini diharapkan tidak hanya bersifat seremonial, melainkan menjadi pijakan strategis dalam membangun kolaborasi institusional yang produktif, terutama dalam pemberdayaan masyarakat dan penguatan nilai-nilai budaya lokal. Sinergi yang terbangun kiranya mampu berkontribusi nyata dalam Tri Dharma PT yang berkelanjutan yang berdampak bagi masyarakat, dunia pendidikan serta lebih meningkatkan profesional dosen dalam kariernya.” Pungkasnya.
Baca Juga: Forum Komunikasi Dosen (FKD) Karawang Gelar Sharing Session Daring Bertema “Masalah Adalah Aset”
Direktur Pacasarjana, Prof. Dr. Kadek Aria Prima Dewi PF., S.Ag., M.Pd. mengungkapkan “Tema yang diangkat sangat relevan dengan situasi terkini dan tantangan zaman. Krisis ekologi tidak hanya berdimensi kepada lingkungan, tetapi juga mencerminkan krisis nilai dan krisis peradaban dalam konteks ini, ekoteologi mengajak kita untuk menata kembali relasi manusia dengan alam sebaga relasi yang sakral dan penuh tanggung jawab.” Beliau juga menyatakan, “nilai-nilai lokal seperti Tri Hita Karana, Sad Kerthi, Tri Kaya Parisudha yang juga menjadi spirit IMK, sesungguhnya telah lama menjadi pondasi etis masyarakat Bali. Oleh karena itu, kearifan lokal bukan sekedar warisan budaya, tetapi merupakan lokal wisdom yang telah teruji lintas generasi dan lintas abad.” Ungkapnya.
Comment