“Idealnya, jika setiap program studi memiliki satu profesor, maka dibutuhkan sedikitnya 3.000 profesor. Namun kondisi saat ini, jumlah profesor yang ada masih berkisar di angka 390-an, dan yang benar-benar aktif sesuai ketentuan hanya sekitar 290 profesor,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa secara nasional, dari sekitar 330 ribu dosen, hanya sekitar 12.500 orang atau sekitar tiga persen yang berhasil mencapai jabatan akademik tertinggi sebagai Guru Besar. Sementara itu, di wilayah Bogor dan Sukabumi, jumlah Guru Besar saat ini baru mencapai 21 orang.
Sementara itu, Ketua Umum YPSPIAI, Prof. Dr. Uman Suherman AS, M.Pd menilai pengukuhan Guru Besar kali ini memiliki makna yang sangat spesial, khususnya bagi pengembangan keilmuan bimbingan konseling.
“Pengukuhan ini sangat istimewa karena dengan hadirnya Guru Besar di bidang Manajemen Bimbingan Konseling, penguatan bimbingan di tingkat Universitas menjadi sebuah keniscayaan. Terlebih, Universitas Djuanda merupakan satu-satunya yang memiliki keilmuan tersebut,” tutur Prof. Dr. Uman Suherman AS, M.Pd.
Ia menambahkan bahwa kehadiran Prof. Dr. Hj. R. Siti Pupu Fauziah Roestamy, S.Pd.I., M.Pd.I sebagai Guru Besar menghadirkan figur akademisi yang bijaksana, penuh empati, dan diharapkan memberi kontribusi besar bagi pengembangan bimbingan konseling di perguruan tinggi.
Pada kesempatan yang sama, Chancellor UNIDA, Prof. Dr. H. Martin Roestamy, S.H., M.H menekankan bahwa pengembangan keilmuan bimbingan dan konseling harus berakar pada nilai-nilai Islam yang menjunjung tinggi kemanusiaan.
“Ajaran Islam menekankan pentingnya akhlak mulia, kasih sayang, dan keadilan sosial. Oleh karena itu, konsep ini menjadi landasan yang kuat bagi praktik bimbingan dan konseling yang berorientasi pada kemanusiaan dan keadilan,” ujarnya.
Comment