Dengan pendekatan ini, Renaya bukan hanya sekadar koleksi figurine, melainkan simbol kesadaran publik terhadap penyakit langka yang menyentuh sisi emosional sekaligus informatif.
Proyek ini menjadi sarana kreatif untuk mengubah perspektif masyarakat mengenai kata rare—dari sekadar “barang langka” menjadi kesadaran tentang rare disease—serta menjembatani suara pasien, mengatasi miskonsepsi publik, dan mendorong kolaborasi lintas sektor untuk membangun ekosistem kesadaran dan dukungan yang lebih kuat.
Baca Juga: Literasi Keuangan Syariah: KKN UIKA Ajak Warga Curug Hindari Riba dan Pinjol Ilegal
Keberhasilan kedua tim ini tidak hanya menjadi kebanggaan bagi civitas akademika UI, tetapi juga membuktikan kapasitas mahasiswa dalam menghadirkan ide-ide segar dan berdampak nyata bagi kesehatan masyarakat.
Dengan mengusung konsep inovatif, mereka berupaya menjawab tantangan besar terkait penyakit langka yang kerap terabaikan.
“Kami merasa sangat bersyukur dan bangga dapat membawa nama UI meraih Juara 1 dalam kompetisi ini. Tantangan yang kami hadapi justru menjadi motivasi untuk terus berinovasi dan memberikan solusi yang bermanfaat, khususnya bagi pasien dengan penyakit langka di Indonesia," ungkap perwakilan tim RareAware, Puteri Adristi Arundaya Iriana dalam keterangan resminya.
Baca Juga: Literasi Keuangan Sejak Usia Dini, Mahasiswa KKN UIKA Bogor Ajak Anak PAUD Belajar Menabung
"Kami berharap langkah kecil ini dapat membuka jalan untuk perubahan yang lebih besar di masa depan,” tambah Puteri Adristi Arundaya Iriana.
Tak berhenti di tingkat nasional, Tim RareAware akan melanjutkan perjuangan dengan mewakili Indonesia pada Regional Final AstraZeneca Project iDEA 2025 yang akan digelar pada 11 September 2025.
Comment