YOGYAKARTA. CEKLISSATU – Menulis buku bukan hanya sekadar aktivitas akademik, tetapi juga investasi strategis yang membawa manfaat besar bagi dosen, institusi, dan mahasiswa. Dalam dunia pendidikan tinggi, kontribusi ini terbukti mampu meningkatkan kualitas pendidikan serta mendongkrak reputasi institusi melalui score SINTA yang lebih baik.  

Dr. Widyastuti Andriyani, S.Kom., M.Kom., Wakil Sekretaris Jenderal DPP FKD Indonesia, menjelaskan bahwa menulis buku dapat memperkuat posisi dosen sebagai pakar di bidang keilmuannya. Setiap buku yang diterbitkan, terutama yang memiliki ISBN atau terindeks, menjadi portofolio akademik yang diakui secara nasional maupun internasional. "Kontribusi ilmiah dosen yang terukur melalui karya-karya ini berperan penting dalam meningkatkan score SINTA mereka, yang juga berdampak positif pada penilaian kinerja institusi tempat dosen bernaung," ujarnya.  

Score SINTA yang tinggi tidak hanya mengangkat reputasi individu, tetapi juga institusi. Dengan semakin banyaknya buku berkualitas yang dihasilkan dosen, akreditasi dan daya saing perguruan tinggi ikut meningkat. Hal ini memberikan keuntungan besar dalam membangun reputasi institusi di tingkat nasional maupun global.  

Baca Juga : Turunkan Angka Kemiskinan Ekstrem, Ini 3 Fokus Strategi Pemkot Bandung

Dari perspektif mahasiswa, buku karya dosen menjadi sumber referensi yang relevan dan terarah sesuai dengan kurikulum. Buku ini tidak hanya memuat materi ajar, tetapi juga wawasan dan pengalaman yang dimiliki oleh dosen. "Mahasiswa dapat memperoleh pemahaman yang lebih mendalam dan komprehensif melalui karya-karya ini, yang mendorong mereka untuk lebih aktif belajar," tambah Dr. Widyastuti.  

Ketua Umum DPP FKD Indonesia, Raden Minda Kusumah, S.E., M.M., menekankan pentingnya kolaborasi dalam penulisan buku untuk meningkatkan kualitas pendidikan. "Kolaborasi dapat terjadi manakala dosen-dosen dari berbagai institusi berbagi keahlian dan pengalaman mereka, menciptakan sinergi untuk menghasilkan karya yang tidak hanya relevan, tetapi juga inovatif," ujarnya. 

Sekretaris Jenderal DPP FKD Indonesia, Yoana Nurul Asri, S.Si., M.Pd., menambahkan bahwa koordinasi dalam penulisan buku menjadi kunci keberhasilan. "Sebagai koordinator kolaborasi buku referensi atau buku ajar, saya melihat bagaimana Dr. Widyastuti menjadi contoh nyata dosen yang produktif. Ia berhasil menghasilkan 11 judul buku sepanjang tahun 2024, sebuah pencapaian luar biasa di tengah kesibukannya mengajar dan menjalankan Tridharma Perguruan Tinggi lainnya," tuturnya.  

Selain itu, menulis buku juga menjadi bentuk warisan intelektual yang berdampak jangka panjang. Buku yang dihasilkan akan terus memberikan manfaat bagi dunia akademik dan menjadi inspirasi bagi generasi mendatang untuk melanjutkan tradisi keilmuan yang produktif.  

"Menulis buku bukan sekadar tugas akademik, tetapi sebuah investasi masa depan untuk pendidikan dan kemajuan ilmu pengetahuan," pungkas Dr. Widyastuti.  

Melalui upaya ini, para dosen tidak hanya memberikan kontribusi signifikan bagi pengembangan pendidikan, tetapi juga menciptakan jejak intelektual yang abadi untuk kemajuan generasi mendatang.  

(Febrian Batara Aditya Rahman)