BOGOR, CEKLISSATU - Mahasiswa Sains Komunikasi Kelas Eksekutif (Karyawan) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Djuanda Bogor angakatan 2022 sukses menggelar sebuah pertunjukan wicara publik bertajuk "Bolehkah Aku Berbicara Sebagai...", di Camp Survivor, Cilendek Kota Bogor pada Minggu, (7/7/2024).

Pertunjukan ini mengangkat isu yang cukup relevan bagi golongan remaja yaitu sulitnya berekspresi dan berimajinasi. Minimnya ruang ekpresi serta berbagai tuntutan pendewasaan membuat kesempatan mencurahkan rasa sangat terbatas.


Pertunjukan ini juga merupakan rangkaian dari pelaksanaan Ujian Akhir Semester 4 Universitas Djuanda Bogor, Tujuannya untuk mengasah kemampuan public speaking serta mempertunjukan ragam dimensi dari public speaking. 

Baca Juga : Pencurian Kerbau di Wilayah Taman Sari Bogor Terungkap, Terduga Pelaku Ditangkap Polisi

Di tengah sibuknya Kota Bogor mereka menampilkan pertunjukan wicara publik yang variatif, Mulai dari sambutan formal khas para "Pemangku Jabatan", promosi perguruan tinggi, penyuluhan lingkungan sampai penampilan monolog. Para penampil bebas menumpahkan ide dan gagasan dalam setiap penampilanya, Minggu sore mulai pukul 16:00, semua yang hadir di Camp Survivor menyaksikan kembalinya "Sosok Pemimpi" itu.

Robby Firliandoko selaku Dosen pengampu mata kuliah Retorika dan Public Speaking sekaligus yang menginisiasi format praktik public speaking di ruang publik ini mengatakan bahwa poin penting dari praktik ini adalah memberikan tantangan kepada para mahasiswa untuk berani tampil. Ia juga mengatakan bahwa value dari pertunjukan ini adalah memberikan perspektif baru kepada para mahasiswa tentang public speaking.

"Dan ketika temen-temen tampil menyampaikan pesan dengan baik dan diterima dengan baik tentu itu sudah luar biasa. dan akhirnya temen-temen mendapatkan beberapa  value  bahwa public speaking  tuh ga cuma sekadar belajar nulis doang tapi public speaking  juga adalah kemampuan untuk berani tampil, menyampaikan pesan dan pesannya tersampaikan dengan baik," ujarnya.

Mahasiswa Sains Komunikasi Kelas Eksekutif yang melabeli kelompok mereka dengan nama Murasaki merasa perlu ada satu hari dimana semua orang dibebaskan untuk bereskpresi, menumpahkan ide juga berimajinasi tanpa ada tuntutan dari pihak manapun.

Moch Alwi sebagai perwakilan dari Murasaki mengatakan momen ini sungguh menggembirakan sekaligus menghangatkan hati sebab pada akhirnya keinginan untuk memberi ruang bereskpresi dan berimajinasi dapat terealisasikan. Harapannya efek dari pertunjukan ini adalah keberanian untuk berkspresi dan berimajinasi baik dalam format pertunjukana atapun di kehidupan sehari-hari.

"Tentu rasanya sangat menyenangkan melihat bagaimana pertunjukan ini berhasil dilaksanakan, dan yang terpenting adalah pertunjukan ini bukannya sekadar praktek untuk ujian namun bagaimana memberikan kawan-kawan semua ruang untuk bereskpresi," ungkapnya.

Dengan ragamnya jenis  public speaking yang dipertunjukan, tentu ada beberapa Penampil yang merasakan pengalaman pertama melakukan public speaking di ruang publik. Salah satunya ialah Sekar Aulia Zahara yang menampilkan Monolog, menurutnya ini pengalaman yang menyenangkan bagaimana ia bisa mendapat kesempatan untuk menampilkan Monolognya.

"Cukup menyenangkan apalagi ini pengalaman pertama aku juga, untuk awal awal pasti deg-degan sih tapi karena yakin dan harus berani tampil akhirnya bisa menampilkan monolognya dan ada perasaan tersendiri juga ketika membawakan monolognya," ujar Sekar yang memerankan Alaya dalam Monolognya.

Selain dari kawan-kawan Mahasiswa Sains Komunikasi, Pertunjukan ini juga dimerahkan oleh Salira Seni Bogor, Lapak Baca Bogor. SuaraSifat, FirdausAbstrak serta Kasunyataan.