BOGOR, CEKLISSATU.COM - Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) membuka peluang besar bagi dunia pendidikan.
Teknologi ini dapat membantu mahasiswa mencari referensi, menganalisis data, hingga mengembangkan aplikasi.
Namun, di tengah kemudahan yang ditawarkan AI, penggunaannya perlu disertai pemahaman etika.
Baca Juga: Bukan Cuma ChatGPT, Ini Deretan AI yang Jadi ‘Senjata Rahasia’ Mahasiswa
Dosen ekolah Sains Data, Matematika, dan Informatika IPB University, Hafidlotul Fatimah Ahmad mengatakan, ada dua aspek etika yang kerap diabaikan dalam penggunaan AI, yakni human oversight (pengawasan manusia) dan data privacy (privasi data).
Ia menjabarkan, AI generatif seperti ChatGPT dan Gemini bekerja dengan memprediksi kata berikutnya berdasarkan data yang telah dipelajari.
Karena itu, hasilnya tidak selalu benar dan perlu diperiksa kembali.
Baca Juga: DPRD Jabar Soroti Pembangunan Pusat Data Berbasis AI di Kawasa Waduk Jatiluhur yanv Diresmikan KDM
"Tidak bisa kita menjadikan AI ini satu-satunya sumber kebenaran," jelasnya, dikutip dari keterangannya, Kamis (15/10/2026).
Fatimah mengingatkan mahasiswa agar tidak langsung menerima jawaban AI, termasuk referensi dan tautan artikel ilmiah yang dihasilkan.
Tautan tersebut bisa saja tidak valid atau mengarah pada sumber yang sebenarnya tidak ada.
Selain memverifikasi informasi, pengguna perlu menjaga kerahasiaan data.
Baca Juga: Jakarta Robotic Games 2026 Cetak Talenta Muda, Pramono Anung Siapkan Jalan ke Ajang Internasional
Data sensitif, seperti nomor induk kependudukan (NIK), maupun data penelitian yang bersifat rahasia tidak boleh sembarangan dimasukkan ke layanan AI.
Pengguna juga perlu memahami pengaturan privasi setiap layanan.
Beberapa layanan menyediakan opsi agar percakapan tidak digunakan sebagai data pelatihan, tetapi pengaturan tersebut perlu diperiksa terlebih dahulu.
Baca Juga: Dosen IPB University Latih ASN Pesawaran Produksi Press Release Berbasis Articial Intelegence
Dalam pendidikan, AI dapat dimanfaatkan untuk mencari ide, melakukan brainstorming, dan membuat latihan soal.
Namun, Fatimah menegaskan, menyalin hasil AI tanpa pemeriksaan dan mengumpulkannya sebagai karya sendiri dapat melanggar integritas akademik.
Ia menilai, penggunaan AI tidak serta-merta melemahkan kemampuan manusia.
Mahasiswa justru perlu meningkatkan keterampilan analisis agar mampu mengerjakan tugas yang membutuhkan penalaran, sementara pekerjaan berulang dapat dibantu oleh teknologi.
Dia menyarankan mahasiswa untuk tetap memegang kendali, menjaga privasi data, dan terus meningkatkan keterampilan mengikuti perkembangan teknologi.
"Pesan saya simpel, ingat bahwa tugas yang dikumpulkan itu membawa nama penulisnya sendiri, bukan nama AI," pungkasnya.
Comment