BOGOR, CEKLISSATU - Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Bogor, mengajak Aparatur Sipil Negara (ASN) dan dunia usaha untuk menghentikan pemborosan pangan atau food waste.
Kampanye stop pemborosan pangan dilakukan melalui kegiatan Rakor Gerakan Selamatkan Pangan dengan tema ‘Membangun Ketahanan Pangan Berkelanjutan melalui Pengelolaan Sisa Pangan Berlebih di Sektor Swasta’.
Plt. Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Bogor, Bambam Setiaji mengungkapkan, bahwa sekitar sepertiga dari makanan yang diproduksi untuk konsumsi manusia hilang atau terbuang selama proses panen dan konsumsi.
Baca Juga: Cegah Food Waste, Kota Bogor Dorong Surat Edaran Penyelamatan Pangan
Fenomena ini, yang dikenal dengan istilah food loss and waste (FLW), telah menjadi isu global dan lokal, termasuk di Kabupaten Bogor.
Bambam menjelaskan, bahwa tren pemborosan pangan yang semakin meningkat berdampak negatif terhadap lingkungan, ekonomi, dan sosial.
Dia juga menambahkan, tingginya tingkat pemborosan pangan yang dihasilkan sangat kontras dengan banyaknya penduduk yang masih mengalami kerawanan pangan.
“Food waste ini tidak hanya merugikan dari sisi ekonomi, tapi juga memperburuk ketahanan pangan masyarakat, terutama mereka yang rentan terhadap masalah pangan,” ujarnya di Cibinong, Rabu 26 Februari 2025.
Bambam menambahkan, Rapat Koordinasi Gerakan Selamatkan Pangan di Sektor Swasta, bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kapabilitas sektor swasta dalam penanganan food waste.
“Kami berharap kegiatan ini dapat membuka kesadaran dan mendorong sektor swasta untuk lebih bertanggung jawab dalam mengelola sisa pangan. Selain itu, ini juga menjadi kesempatan untuk memperkuat kerjasama dalam mewujudkan ketahanan pangan yang berkelanjutan,” imbuhnya.
Baca Juga: Dukung Ketahanan Pangan, Pj Bupati Bogor Pastikan Pasokan Pupuk Aman
Sementara itu, Direktur Kewaspadaan Pangan Badan Pangan Nasional, Nita Yulianis memaparkan, pada aspek ketahanan pangan, sekitar 29 kg makanan yang masih layak konsumsi per kapita per tahun terbuang sia-sia.
Berdasarkan informasi, rata-rata jumlah food waste per orang di Kabupaten Bogor mencapai 77 kg per tahun, dengan estimasi kerugian ekonomi sebesar Rp2,2 triliun, setara dengan 0,8% Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Bogor.
Nita menambahkan, dari 2000 hingga 2019, timbulan emisi food loss and waste diperkirakan mencapai 1.702,9 juta ton CO2 ekuivalen, yang berkontribusi sekitar 7,29% terhadap emisi Gas Rumah Kaca (GRK) Indonesia.
Baca Juga: Buruan Sae Mampu Tekan Inflasi dan Tingkatkan Ketahan Pangan Kota Bandung, Ini Contohnya
“Ini bisa menghilangkan kesempatan seseorang untuk memenuhi kecukupan energi dan 21 zat gizi selama 7 hari,” katanya.
Menurutnya, berdasarkan data dari United Nations Environment Programme, secara global, setiap orang menghasilkan rata-rata 74 kg food waste dalam setahun, dengan 26% berasal dari institusi jasa makanan dan 13% dari sektor retail.
Berdasarkan data Bappenas, salah satu penyebab utama pemborosan pangan di sektor Hotel, Restoran, dan Katering (Horeka) adalah kurangnya edukasi bagi pekerja pangan dan konsumen mengenai pentingnya penanganan masalah tersebut.
Baca Juga: Mengancam Program Ketahanan Pangan, Warga Ciherang Pondok Perbaiki Daerah Irigasi Palayangan
“Diharapakan dengan adanya kegiatan ini, dapat menjadi momentum untuk membangun gerakan bersama dalam mengurangi pemborosan pangan, serta meningkatkan kesadaran akan pentingnya pengelolaan sisa pangan yang lebih efisien dan berdampak positif bagi masyarakat, ekonomi, dan lingkungan,” tutupnya.
Comment