BOGOR, CEKLISSATU.COM – Beberapa hari terakhir, pernyataan Menteri Keuangan Sri Mulyani yang menyebut guru sebagai “beban negara” menuai kontroversi di kalangan masyarakat, terutama tenaga pendidik.
Banyak pihak menilai ungkapan tersebut mencederai profesi guru yang sejatimya menjadi garda terdepanm dalam mencerdaskan bangsa.
Suara lantang datang dari Arif Rahman, guru di salah satu sekolah di Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor.
Ia menegaskan, tidak setuju dengan kalimat kontroversial yang dilontarkan Sri Mulyani.
“Kalau saya pribadi jelas tidak setuju, memang kalau kita cermati, di awal pernyataan sebenarnya ada niat baik, yaitu bahwa guru dan dosen selama ini belum dihargai secara layak karena gajinya kecil, Tapi kalimat setelahnya yang bilang seolah-olah guru itu beban negara, itu yang jadi masalah,” ujarnya saat dihubungi Ceklissatu.com, Senin (18/08/25).
Menurut Arif, pendidikan merupakan hak dasar warga negara yang sudah dijamin dalam UUD, sehingga menjadi kewajiban konstitusional pemerintah untuk menanggungnya.
Baca Juga: Seorang Guru SMAN 1 Bandung Dikabarkan Hilang, Diduga Terlibat Investasi
“Kalau negara kemudian mengisyaratkan bahwa gaji guru jangan sepenuhnya dari APBN, itu bisa bahaya. Akan muncul tafsir bahwa ada upaya liberalisasi atau komersialisasi pendidikan,ini bahaya sekali, nanti yang ada justru pendidikan hanya untuk orang mampu dan guru sejahtera hanya di sekolah elit itukan tidak merata,” tutur dia.
Lebih jauh, Arif juga menyoroti bagaimama penghargaan terhadap guru di Indonesia masih jauh dari kata layak.
Ia mencontohkan, masih banyak tenaga honorer yang gajinya tidak sebanding dengan beban kerja dan tanggung jawabnya.
Baca Juga: Sekolah Rakyat Mampu Atasi Kemiskinan Struktural, Sri Mulyani: Akan Jadi Program Prioritas 2026
“Guru itu seharusnya dihormati dan disejahterakan, faktanya masih banyak guru yang harus memikirkan pekerjaan sampingan di luar sekolah hanya untuk bertahan hidup,” ujar dia.
Arif berharap pemerintah, terutama Kementerian Pendidikan, dapat menjadikan momentum ini sebagai bahan evaluasi untuk lebih memperhatikan kesejahterasn dan kualitas tenaga pendidik.
“Harapan saya jelas, guru jangan hanya dilihat dari sisi anggaran yang membebani, justru SDM pendidikan ini yang menentukanm maju mundurnya bangsa. Jadi tolong diberi penghargaan yang layak, supaya guru bisa fokus mencerdaskan siswa tanpa harus memikirkan dapur di rumah,” tandasnya.
Comment