Misalnya, kata sandi seperti:
B3rL4ri!KeP4sar
memang terlihat rumit, tetapi relatif pendek.
Sebaliknya, kalimat seperti:
SayaMinumKopiSetiapPagiSebelumKerja
lebih panjang dan biasanya jauh lebih sulit ditebak oleh sistem peretasan otomatis.
Menurut panduan dari CISA dan National Cyber Security Centre (NCSC), penggunaan passphrase yang terdiri dari beberapa kata acak atau kalimat yang mudah diingat dapat meningkatkan keamanan tanpa membuat pengguna kesulitan menghafalnya.
Hindari Informasi yang Mudah Ditebak
Meski menggunakan kalimat panjang, pengguna tetap disarankan untuk menghindari informasi yang berkaitan langsung dengan identitas pribadi. Nama lengkap, tanggal lahir, nama hewan peliharaan, hingga nama pasangan sering menjadi target pertama yang dicoba oleh pelaku kejahatan siber.
Baca Juga: Atensi Khusus Gubernur Jabar Terpilih, Deolipa Yumara Dampingi Sandi Terkait Polemik Damkar Depok
Karena itu, kalimat sandi sebaiknya bersifat unik dan tidak mudah dikaitkan dengan informasi yang tersedia di media sosial maupun internet.
Gunakan Password Berbeda untuk Setiap Akun
Salah satu kesalahan yang masih sering dilakukan adalah menggunakan satu password yang sama untuk berbagai akun. Praktik ini dinilai berisiko karena jika satu akun berhasil diretas, akun lain yang menggunakan kata sandi serupa juga dapat ikut terancam.
Pakar keamanan menyarankan penggunaan kata sandi yang berbeda untuk email, media sosial, layanan belanja daring, hingga aplikasi perbankan. Untuk memudahkan pengelolaan, pengguna dapat memanfaatkan aplikasi password manager yang dirancang untuk menyimpan kata sandi secara aman.
Aktifkan Verifikasi Dua Langkah
Selain membuat kata sandi yang kuat, pengguna juga dianjurkan mengaktifkan autentikasi dua faktor (two-factor authentication/2FA). Fitur ini menambahkan lapisan keamanan tambahan berupa kode verifikasi yang dikirim melalui aplikasi autentikator atau perangkat pengguna.
Comment