BOGOR, CEKLISSATU - Pondok Pesantren (Ponpes) Sirojul Huda yang berlokasi di Kelurahan Katulampa, Kecamatan Bogor Timur, Kota Bogor, menggelar dialog kebangsaan dengan tema Ancaman Bibit Radikalisme di Tahun Politik.

Dialog kebangsaan tersebut menghadirkan empat narasumber yang tentu berkompeten dibidangnya yakni Founder Media Islam, Gus Ahmad Ubaidillah, Presidium IPW, Sugeng Teguh Santoso, Direktur Jaringan Muslim Madani (JMM), Syukron Jamal serta Perwakilan Densus 88 Polri, Kombes Pol Ponco Ardani selaku Kasubdit Kontra Radikal Ditcegah Densus 88 AT Polri.

Turut hadir Kapolresta Bogor Kota, Kombes Pol Bismo Teguh Santoso, Pimpinan Pondok Pesantren, DR. KH. Mahsunul Alim, Camat Bogor Timur, Feby Darmawan, lurah katulampa, para santri, guru dan masyarakat pada umumnya.

Baca Juga : Surga Kecil di Pulau Merak, Cocok Jadi Destinasi Akhir Pekan

Acara itu pun mendapat apresiasi dari Kasubdit Kontra Radikal Ditcegah Densus 88 AT Polri, Kombes Pol Ponco Ardani. Menurutnya, dialog kebangsaan yang dilaksanakan Ponpes Sirojul Huda sangat bagus karena memberikan imun khususnya kepada para santri dan guru untuk saling menjaga, mencegah dan menguatkan supaya tidak terpapar faham radikal, intoleran dan teror.

"Tentunya dialog kebangsaan ini bisa menjadi percontohan bagi pondok pesantren lainnya, terus menggelora tentang bahayanya radikalisme, intoleransi apalagi menjelang tahun politik," ucapnya kepada CeklisSatu.com, kemarin.

Ponco mengatakan bahwa upaya menangkal radikalisme ini sangat penting sebab menjadi kerja besar negara sehingga harus dipastikan pada pelaksanaan pemilu nanti harus terbebas dari politik identitas, termasuk politisasi agama.

"Kita harus belajar dari pengalaman yang sudah-sudah bahwa politik identitas ini sangat berkepanjangan dampak konfliknya, jadi kita harus mengajak seluruh elemen masyarakat, stakeholder, lembaga untuk betul-betul membumikan bahwa sangat berbahayanya politik identitas, politisasi agama digunakan dalam rangka pemilu ini," ungkapnya.

Intoleran, radikal dan teror saat ini, sambung Ponco, menjadi ancaman yang serius. Jika dibiarkan bisa merusak tatanan negara oleh karena itu harus betul-betul di cegah supaya masyarakat juga terbebas dari faham intoleran, radikal dan teror.

Upaya dari Densus sendiri, masih kata Ponco, dalam memberantas hal-hal tersebut diantaranya menggandeng lembaga-lembaga, stakeholder dan elemen masyarakat bahwa ini menjadi tanggung jawab bersama untuk memberikan edukasi kepada masyarakat bahwa betapa berbahayanya intoleran, radikal dan teror. 

"Kita juga mengimbau dan melakukan penyuluhan ke elemen masyarakat seperti pondok pesantren, majelis pengajian dengan menggandeng para tokohnya untuk mengedukasi dan mencegah terjadinya politik identitas, intoleran, radikal dan teror yang dapat menyebabkan terpecahbelahnya bangsa ini," tegasnya.

IMG-20230211-WA0003.jpg
Empat pemateri yang menjadi narasumber dalam dialog kebangsaan yang digelar Pondok Pesantren Sirojul Huda (dok. Taufik/ceklissatu)

Ditempat yang sama, Presidium IPW, Sugeng Teguh Santoso menyebut bahwa setiap tahun politik kelompok radikal itu selalu ada. Namun yang harus dicermati ialah kelompok-kelompok radikal akan mencari peluang untuk menitipkan kepentingan-kepentingan politiknya kepada pihak tertentu.

Sehingga, lanjut Sugeng, hal ini yang harus dicermati bahwa kepentingan politik itu mungkin tidak menjadi nyata atau terwujud, tetapi bisa ditumpangi oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk menjadi satu momentumnya terjadinya instabilitas.

"Ancaman radikalisme ini tentu pasti ada, tetapi tidak akan begitu pengaruh dan yang harus dicermati yakni tentang terorismenya," imbuhnya.

Senada, Founder Media Islam, Gus Ahmad Ubaidillah menilai bahwa media sosial harus menjadi medan dakwah yang harus dianggap strategis oleh masyarakat terutama di dunia Islam, harus bersama-sama mengkampanyekan soal persahabatan, persaudaraan dimana itulah yang harus ditegakan, sedangkan kebencian, permusuhan itu harus dihilangkan sampai keakar-akarnya.

"Jangan sampai karena urusan politik, elektoral membuat kontestasi politik menjadi sebab terjadinya disharmoni di "akar rumpur". Oleh karena itu, elit-elit agama tidak hanya Islam melainkan semua tokoh agama dan masyarakat harus mulai terus menerus mendorong upaya itu, saya kira itu juga bagian dari ikhtiar kultural yang dilakukan masyarakat," ujarnya.

Kang Ubay sapaan akrabnya menuturkan bahwa radikalisme sangat berbahaya lantaran berdampak akan kerusakan di kehidupan maupun bangsa, maka dari itu sangat penting melawan radikalisme ini. 

"Saya mengajak kepada masyarakat untuk memperkuat tradisi dan budaya literasi. Kalau tradisi dan budaya literasi ini kokoh, maka kita bisa menilai atau memastikan kebenaran setiap informasi yang di dapat baik melalui media sosial maupun media massa lainnya," tegasnya.

Sementara itu, Ketua Panitia sekaligus koordinator Forum Pesantren dan Majelis Jawa Barat Selatan, M Fahmi Fauzan Ihsan menambahkan digelarnya dialog kebangsaan berkaca pada tahun politik 2019 lalu bahwa banyak perpecahan akibat berbeda pilihan maupun pendapat terhadap calon presiden.

"Melalui acara ini harapannya tidak ada perbedaan pilihan yang menjadi sumber perpecahan, siapapun presidennya nanti tidak berdampak adanya perpecahan, permusuhan dan hal-hal yg kurang baik ditengah masyarakat, juga perlu diperhatikan bahwa penting disosialisasikan secara menyeluruh sampai tingkat masyarakat paling bawah disetiap kabupaten kota se indonesia," katanya.