Farhan menjelaskan, sharing ride sendiri menjadi salah satu usulan dari para supir angkot untuk menggantikan sistem trayek yang rencananya bakal dihapus. Nantinya, setiap angkot bakal memiliki wilayah kerja sendiri di setiap kecamatan. 

“Jalurnya ada grid-nya. Jadi gini, mencukupi orang ya wilayah kerjaan lah. Jadi misalkan kita bagi menjadi 30 wilayah kerja, di mana satu wilayah kerja adalah satu kecamatan kita nyambung-nyambung," ujarnya. 

"Misalkan Anda dari Kecamatan Coblong, mau ke Kecamatan Sumur Bandung, maka Anda harus turun di titik terakhir Kecamatan Coblong. Setelah itu Anda harus nyambung ke Kecamatan Bandung, nanti Anda nyambung lagi ke kecamatan selanjutnya,” beber Farhan

Baca Juga: Pohon Beringin Tumbang di Babakan Ciparay Kota Bandung, Timpa Mobil dan Dua Warung

Terkait dengan tarif yang diberlakukan, Farhan membeberkan bahwa tarif tersebut dipastikan murah dan terjangkau seharga Rp 7.000 per satu kali tap kartu. Tarif tersebut juga bakal terintegrasi dengan Bandung Rapid Transportation (BRT).
 
“Tarifnya 7 ribu, sekali tap 7 ribu. Nanti sistem pembayarannya akan diintegrasi dengan BRT. Saya masih melihat angkanya di angka 7 ribu—meren, meren. Ini belum pasti. Mungkin 7 ribu, tapi bisa 5 ribu, bisa 10 ribu," ucapnya. 

"Dihitung dari berapa lama dia terakhir ngetap. Kalau ngetap-nya lebih dari 1 jam, maka begitu dia naik, kena 7 ribu deh,” lanjut dia.