“Kita ingin memastikan menu bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita non-PAUD berbeda dengan menu anak sekolah, karena kebutuhan gizinya juga berbeda,” jelasnya.


Fokus kedua, lanjut Wihaji, adalah menjangkau kelompok sasaran yang belum sepenuhnya terlayani oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), terutama di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar) seperti pulau-pulau terpencil.

“Nanti akan kita diskusikan bersama Badan Gizi Nasional (BGN) untuk menjawab kebutuhan di wilayah terpencil, terluar, dan terdalam agar bisa difasilitasi melalui program DASHAT,” katanya.

Baca Juga: Rakor TP3S Lintas Sektor, Penurunan Angka Stunting Jadi Prioritas Utama Pembangunan Kabupaten Bogor


Sementara fokus ketiga adalah memastikan ketepatan distribusi dan penerima manfaat, mulai dari waktu memasak, pendistribusian, hingga siapa yang benar-benar mengonsumsi makanan tersebut.


“Kita ingin memastikan yang makan benar-benar ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Jangan sampai setelah ompreng ditinggal, justru dimakan orang lain,” tegas Wihaji.


Dalam uji coba ini, sekitar 100 penerima manfaat di wilayah tersebut mendapatkan makanan bergizi hasil olahan ibu-ibu DASHAT. Menu disesuaikan untuk balita, termasuk baduta (di bawah dua tahun), serta telah melalui pengecekan kandungan gizi oleh tenaga ahli.