Ia berharap pemerintah dapat kembali menurunkan harga BBM agar lebih terjangkau masyarakat.
“Paling enggak balik normal lagi. Kalau naik seribu masih bisa dimaklumi,” tambahnya.
Keluhan serupa juga datang dari pengemudi ojek online (ojol), Redy (37), warga Karadenan. Ia mengaku lebih memilih menggunakan Pertalite karena harga Pertamax dinilai terlalu mahal untuk kebutuhan operasional harian.
“Kita ojol berat kalau harga BBM naik, sementara ongkir malah turun. Kalau ongkir ikut naik mungkin masih bisa ngikutin,” ujarnya.
Menurut Redy, pengeluaran bahan bakar menjadi salah satu beban terbesar bagi pengemudi ojol. Dalam sehari, ia bisa menghabiskan bahan bakar hingga Rp50 ribu untuk bekerja.
Baca Juga: JPE Ungguli Phonska Plus Pada Leg 1 Grand Final Proliga 2026
Meski mengakui kualitas Pertamax lebih baik, ia mengaku semakin sulit beralih ke BBM nonsubsidi akibat lonjakan harga yang cukup tinggi.
“Sebenarnya pengen pakai Pertamax karena bagus, tapi kalau harganya segini berat buat sehari-hari,” katanya.
Ia juga menilai kenaikan harga yang dilakukan secara mendadak kurang tepat dan seharusnya dilakukan secara bertahap agar masyarakat tidak terlalu terbebani.
“Naiknya lumayan tinggi, harusnya bertahap. Untung Pertalite nggak ikut naik, kalau ikut naik pasti ojol jerit,” pungkasnya.
Comment