BOGOR, CEKLISSATU -  Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax dari Rp12.000 menjadi Rp16.000 per liter menuai keluhan dari masyarakat. Sementara itu, Pertamax Green juga mengalami kenaikan hingga menyentuh Rp17.000 per liter.

Pantauan di salah satu SPBU kawasan Sukahati, Kecamatan Cibinong, Rabu (10/6/2026), sejumlah pengendara mengaku kaget dengan kenaikan harga yang dinilai mendadak dan terlalu tinggi. Saat ini, harga Pertalite masih bertahan di angka Rp10.000 per liter.

Salah seorang warga, Hafid (60), mengaku keberatan dengan lonjakan harga Pertamax yang mencapai Rp4.000 per liter. Menurutnya, kenaikan tersebut sangat memberatkan masyarakat pengguna kendaraan harian.

Baca Juga: Pertamina Patra Niaga Lakukan Penyesuaian Harga Pertamax Series, Harga Pertalite dan Solar Subsidi Tetap

“Kalau naik seribu masih wajar, tapi ini naiknya sampai empat ribuan. Tiba-tiba lagi tengah malam, masyarakat kaget,” ujarnya.

Hafid yang sejak lama menggunakan Pertamax mengatakan pengeluaran bahan bakarnya kini meningkat drastis. Biasanya ia mengisi penuh kendaraan dengan biaya di bawah Rp60 ribu, namun kini harus merogoh hingga Rp70 ribu untuk sekali isi penuh.

“Sekarang seminggu bisa dua kali isi full Rp70 ribu. Ya jelas memberatkan,” katanya.

Ia berharap pemerintah dapat kembali menurunkan harga BBM agar lebih terjangkau masyarakat.

“Paling enggak balik normal lagi. Kalau naik seribu masih bisa dimaklumi,” tambahnya.

Keluhan serupa juga datang dari pengemudi ojek online (ojol), Redy (37), warga Karadenan. Ia mengaku lebih memilih menggunakan Pertalite karena harga Pertamax dinilai terlalu mahal untuk kebutuhan operasional harian.

“Kita ojol berat kalau harga BBM naik, sementara ongkir malah turun. Kalau ongkir ikut naik mungkin masih bisa ngikutin,” ujarnya.

Menurut Redy, pengeluaran bahan bakar menjadi salah satu beban terbesar bagi pengemudi ojol. Dalam sehari, ia bisa menghabiskan bahan bakar hingga Rp50 ribu untuk bekerja.

Baca Juga: JPE Ungguli Phonska Plus Pada Leg 1 Grand Final Proliga 2026

Meski mengakui kualitas Pertamax lebih baik, ia mengaku semakin sulit beralih ke BBM nonsubsidi akibat lonjakan harga yang cukup tinggi.

“Sebenarnya pengen pakai Pertamax karena bagus, tapi kalau harganya segini berat buat sehari-hari,” katanya.

Ia juga menilai kenaikan harga yang dilakukan secara mendadak kurang tepat dan seharusnya dilakukan secara bertahap agar masyarakat tidak terlalu terbebani.

“Naiknya lumayan tinggi, harusnya bertahap. Untung Pertalite nggak ikut naik, kalau ikut naik pasti ojol jerit,” pungkasnya.