KABUPATEN BOGOR, CEKLISSATU -- Pada Selasa 1 Jumi 2025 siang, matahari menggantung tinggi di atas Desa Wirajaya, Kecamatan Jasinga, Kabupaten Bogor.
Tepatnya di Jalan Raya Cigelung-Jasinga yang biasanya ramai dengan suara knalpot dan tawa anak-anak pulang sekolah mendadak hingar oleh benturan keras, suara yang tidak biasa.
Ternyata, sebuah mobil pick up putih dengan bak terbuka, tempat biasa tahu bulat digoreng dan dijajakan hangat-hangat, teronggok miring di pinggir jalan.
Moncongnya menghantam pembatas jalan. Nomor polisi F 8197 WM tergantung miring, nyaris lepas. Di kaca depannya, retakan menjalar seperti sarang laba-laba.
Menurut saksi mata, Kardi, warga yang sedang duduk di warung kopi seberang jalan masih mengingat jelas suara rem yang melengking diikuti dentuman yang membuat jantungnya terlonjak.
"Saya lihat mobilnya oleng saat melintasi tikungan. Kayaknya sopir ngantuk. Ndak bisa kontrol, langsung nyungsep ke pembatas jalan," ungkapnya sambil menunjuk bekas goresan ban di aspal.
Mobil itu bukan kendaraan asing bagi warga. Setiap sore, suara khas “tahu bulat digoreng dadakan, lima ratusan, anget-anget...” biasa melantun dari speaker kecil yang menempel di bak belakang.
Comment