BOGOR, CEKLISSATU.COM - Pembangunan Pembangkit Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Galuga dan Kayumanis terus dipersiapkan Pemerintah Kota dan Kabupaten Bogor bersama pihak investor.

Proyek strategis PSEL itu ditargetkan mulai beroperasi pada awal 2028, dengan teknologi pengolahan sampah modern yang diklaim ramah lingkungan dan mampu menghasilkan energi listrik bagi masyarakat.

Direktur Operasional Holding Danantara Waste to Energy, Maulana Muhammad menjelaskan, teknologi yang digunakan dalam proyek PSEL tersebut merupakan sistem pembakaran bersuhu tinggi atau flue gas system yang dirancang untuk meminimalisasi dampak pencemaran udara.

Baca Juga: Pemkot Bogor Percepat Pembangunan PSEL, Targetkan Operasi Awal 2028

“Teknologi ini membakar sampah di atas 850 derajat Celsius sehingga gas berbahaya seperti furan dan dioksin akan terurai sempurna. Jadi tidak ada emisi yang keluar sama sekali,” ujar Maulana, saat sosialisasi PSEL Kota Bogor di kantor PWI, Selasa (26/5/2026).

Menurutnya, listrik yang dihasilkan dari PSEL Galuga nantinya akan langsung diserap gardu induk PLN sebelum didistribusikan ke masyarakat melalui jaringan transmisi.

“Listriknya akan masuk ke gardu induk PLN, lalu didistribusikan melalui transmisi 150 kV dan 20 kV ke masyarakat sekitar,” jelasnya.

Baca Juga: Transisi Pengelolaan Sampah di TPA Galuga, Pemkab Bogor Siapkan Controlled Landfill dan Proyek PSEL

Namun demikian, terkait kemungkinan listrik gratis bagi warga sekitar lokasi proyek, pihak pengelola menyerahkan sepenuhnya kepada kebijakan PLN.

“Untuk berbayar atau tidak, itu menjadi kewenangan PLN yang menentukan distribusinya ke wilayah mana saja,” tambahnya.

Sementara itu, Walikota Bogor, Dedie Rachim menyebut, proses persiapan menuju operasional PSEL sudah mulai dilakukan dari sekarang.

Baca Juga: Bupati Rudy Susmanto Perkuat Pengelolaan Sampah Melalui Kolaborasi PSEL Bersama Pemerintah Kota Bogor

Selain pembangunan infrastruktur utama, penguatan TPS3R dan bank sampah juga menjadi fokus utama agar sistem pengelolaan sampah berjalan optimal.

“Target awal 2028 Galuga maupun Kayumanis sudah mulai beroperasi. Karena itu, sekarang persiapannya dilakukan bertahap, mulai dari transportasi, SDM, hingga pemberdayaan masyarakat sekitar,” ujarnya.

Tak hanya itu, pemerintah juga berencana melakukan sosialisasi lebih masif kepada masyarakat agar proyek pengolahan sampah modern tersebut mendapat dukungan publik dan dipahami manfaatnya bagi lingkungan maupun kebutuhan energi di masa depan.