“Praktik ini sudah kita sadari telah merugikan pertanian kita secara perlahan. Kita membutuhkan sistem pertanian yang lebih sehat dan berkelanjutan,” tutur Prof. Asih dalam orasi ilmiahnya.
Baca Juga: IPB University Kembangkan Biobank dan ART untuk Lindungi Badak Jawa dan Sumatra dari Kepunahan
Sebagai jawaban atas tantangan ini, Prof. Asih bersama timnya menaruh perhatian pada kelompok bakteri menguntungkan yang selama ini jarang dilirik dalam penelitian pertanian, yakni aktinomiset.
Bakteri ini memiliki kemampuan luar biasa: merangsang pertumbuhan tanaman, meningkatkan ketahanan terhadap hama dan penyakit, sekaligus berperan sebagai simbion yang hidup berdampingan dalam jaringan tanaman.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktinomiset mampu menghambat cendawan patogen penyebab penyakit tanaman dan memacu pertumbuhan tanaman. Sebagai contoh, percobaan yang dilakukan Prof Asih pada benih jagung yang diberi perlakuan aktinomiset tumbuh lebih cepat, membentuk akar lebih panjang, dan memiliki jumlah akar lebih banyak dibanding benih tanpa perlakuan.
“Selain dapat menghambat pertumbuhan cendawan patogen penyebab penyakit tanaman, ini juga bisa memacu pertumbuhan dan menambah kesehatan tanaman” ungkapnya.
Baca Juga: Rektor IPB University Serukan Persatuan Bangsa di Tengah Gejolak Demo Nasional
Inovasi berbasis mikroba ini akan mendukung praktik pertanian regeneratif di Indonesia. Eksplorasi aktinomiset berpotensi menjaga keanekaragaman hayati di dalam ekosistem pertanian.
Comment