“Saya menemukan bukan hanya plastik, tetapi juga popok bayi, sisa baju bekas, bahkan kasur. Ini menunjukkan masih rendahnya kesadaran untuk hal sederhana seperti tidak membuang sampah sembarangan,” ucapnya.
Terkait kebijakan penanganan sampah, Dedie menjelaskan bahwa Pemkot Bogor akan memperkuat pengelolaan dari hulu hingga hilir. Di sisi hulu, pemerintah akan meningkatkan pemilahan sampah melalui TPS 3R, bank sampah, serta melibatkan komunitas pecinta lingkungan sebagai mitra strategis.
Sementara itu, di hilir, Pemkot Bogor tengah menyiapkan dua fasilitas pengolahan sampah menjadi energi (waste to energy/WTE), yakni di Galuga yang bekerja sama dengan Kabupaten Bogor dan satu lagi dalam skema aglomerasi Bogor.
“Ke depan, sekitar tahun 2028, Bogor punya peluang mengolah hingga 1.000 ton sampah per hari. Kalau sekarang dalam dua jam kita bisa angkat 1,2 ton, bayangkan jika ada 1.000 titik yang dibersihkan setiap hari, Bogor bisa benar-benar bersih,” jelasnya.
Baca Juga: Juni, Target Groundbreaking PSEL Bogor Raya
Dedie juga mengungkapkan bahwa jenis sampah yang paling mendominasi dan memprihatinkan adalah popok bayi, yang sulit terurai karena mengandung gel, serta styrofoam dan kemasan makanan sekali pakai.
“Popok bayi ini paling banyak dan tidak mudah terurai. Selain itu, ada juga styrofoam, kemasan mi instan, kopi sachet, dan makanan ringan,” ujarnya.
Ia turut mengimbau industri pengolahan makanan untuk berkontribusi dalam pengelolaan sampah, terutama dalam hal pemilahan dan distribusi ke fasilitas pengolahan.
Comment