BOGOR, CEKLISSATU.COM -- Dunia yang kita huni saat ini, sebagaimana digambarkan oleh David WallaceWells dalam bukunya The Uninhabitable Earth, semakin tidak layak ditinggali. Salah satu ancaman terbesarnya adalah kelaparan. 

Wallace menyebutkan bahwa kelaparan muncul dari dampak krisis iklim, terutama suhu bumi yang terus meningkat dan menyebabkan kekeringan berkepanjangan.

Namun di sisi lain, ada faktor yang tak kalah serius: memanasnya suhu politik dunia yang dipicu oleh kekeringan hati nurani para pemimpin global. 

Maka, kelaparan sejatinya lahir dari dua jenis kekeringan—alamiah dan politis—yang keduanya merupakan hasil dari perilaku manusia sendiri.

Baca Juga: Kutuk Pembunuhan Direktur RS Indonesia di Gaza, Fahira Idris: Kebiadaban Israel Semakin Menjadi-jadi

Manusia adalah makhluk yang hidup dalam dua dimensi: lahiriah dan batiniah. Keduanya harus berjalan selaras dan seimbang agar kehidupan di bumi ini tetap harmonis. Ketidakseimbangan antara keduanya akan menciptakan ketimpangan yang berujung pada krisis, termasuk krisis kemanusiaan.

Dimensi batin manusia seharusnya menjadi kompas moral bagi tindakan tindakan lahiriah. Sebagaimana tubuh jasmani memerlukan nutrisi agar tetap sehat, jiwa manusia pun membutuhkan asupan nilai-nilai yang sesuai dengan fitrahnya. 

Lalu, pertanyaannya: nilai seperti apa yang mampu menyehatkan jiwa? Nilai-nilai yang bagaimana yang mampu mendorong manusia bertindak benar, menciptakan kedamaian, dan menjadikan bumi sebagai ruang hidup yang sejahtera?