Krisis ini tidak terjadi secara merata. Di Kota Bogor, kawasan seperti Tanah Sareal mengalami peningkatan suhu signifikan akibat pesatnya alih fungsi lahan hijau menjadi kawasan terbangun. 

Baca Juga: Pemprov DKI Jakarta dan BMKG Siapkan Langkah Mitigasi Bencana, Diskusikan Operasi Modifikasi Cuaca

Beton dan aspal mendominasi ruang kota, menyerap panas di siang hari dan melepaskannya kembali pada malam hari, sehingga suhu sulit turun. 

Sementara itu, di wilayah Kabupaten Bogor bagian timur seperti Cileungsi dan Gunung Putri, panas perkotaan bertemu langsung dengan emisi industri dan lalu lintas berat. 

Topografi Bogor yang berbukit membuat polutan mudah terperangkap, terutama saat angin melemah.

Baca Juga: Pemkab Bogor Perluas CFD Hingga 16 Kecamatan di Kabupaten Bogor

Kelompok yang paling terdampak adalah mereka yang bekerja di luar ruang. Pengemudi ojek daring, pedagang kaki lima, buruh bangunan, dan pekerja informal lainnya harus tetap beraktivitas di bawah panas dan paparan polusi. 

Dalam kondisi panas dan lembap, tubuh secara alami memperlambat kerja untuk mencegah kelelahan. Namun bagi pekerja harian, kondisi ini berarti penurunan pendapatan sekaligus peningkatan risiko kesehatan. 

Anak-anak dan lansia juga menjadi kelompok rentan karena sistem pernapasan mereka lebih sensitif terhadap polusi udara.

Baca Juga: Semprot 4.000 Liter Water Mist di Jalan Raya, DLH DKI Jakarta: Jaga Kualitas Udara  

Perubahan ini tidak terjadi tanpa sebab. Akar persoalannya terletak pada pembangunan perkotaan yang kurang mempertimbangkan daya dukung lingkungan. 

Konversi ruang terbuka hijau, meningkatnya kendaraan bermotor, serta kemacetan di ruas-ruas utama Bogor telah mengubah keseimbangan energi kota. 

Panas dan emisi dilepaskan terus-menerus, sementara kemampuan alam untuk menetralisirnya semakin menurun.

Baca Juga: Kurangi Polusi Udara, 107 Kendaraan Uji Emisi Gratis

Hingga kini, respon kebijakan terhadap risiko gabungan panas dan polusi masih terbatas. Regulasi daerah umumnya masih bertumpu pada indikator suhu udara semata, padahal di wilayah tropis seperti Bogor, kombinasi panas dan kelembapanlah yang menentukan tingkat bahaya sebenarnya. Tanpa pemahaman ini, risiko kesehatan masyarakat akan terus diabaikan.

Bogor sedang menghadapi perubahan lingkungan yang tidak bisa lagi dianggap ringan. Sinergi panas dan polusi telah mengubah wajah “Kota Hujan” menjadi ruang yang semakin pengap dan tidak ramah bagi kesehatan.

Jika tidak direspon dengan kebijakan yang lebih peka terhadap risiko iklim perkotaan, Bogor berisiko kehilangan bukan hanya kesejukannya, tetapi juga kualitas hidup warganya.

Oleh: Fithriya Y. Rohmawati 

Mahasiswa S3 Program Studi Ilmu Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan IPB University