JAKARTA, CEKLISSATU – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) bakal kembali melakukan modifikasi cuaca, untuk mencegah potensi hujan ekstrem. 

Supervisi Deputi Modifikasi Cuaca BMKG Fikri Nur Muhammad mengatakan, tingkat pertumbuhan awa mencapai lebih dari 70 persen di bagian barat Pulau Jawa, termasuk di Jakarta, hal itu berpotensi menyebabkan hujan ekstrem.

“Potensi pertumbuhan awan hujan di wilayah Banten, Jakarta, dan Jawa Barat secara umum tinggi,” terangnya dikutip dari keterangan, Sabtu 15 Februati 2025.

Baca Juga: BMKG Optimalkan Teknologi Modifikasi Cuaca Atasi Cuaca Ekstrem di Jawa Tengah

Fikri mengatakan, kelembaban udara di Jakarta sudah mencapai 90 perse n, jadi perlu dilakukan rekayasa cuaca.

Sebelumnya BMKG sudah melakukan rekayasa cuaca pada 1-6 Februri 2025 lalu.

Sementara itu, Ketua Sub Kelompok Logistik dan Peralatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jakarta Michael Sitanggang mengatakan, untuk rekayasa cuaca timnya akan menaburkan 1.600 kilogram NaCl atau garam per hari di langit ibu kota.

Baca Juga: Modifikasi Cuaca, BRIN Alihkan Awan Hujan ke Wilayah Selat Sunda

“Penerbangan dilakukan 2 kali sehari dalam kegiatan tersebut,” ujarnya.

Tim modifikasi cuaca bakal menyemai langit di sekitar Selat Sunda dan sisi barat laut Jakarta. Selanjutnya tim akan menarget kawasan barat daya.

“Upaya merespons potensi cuaca ekstrem yang diprediksi akan terjadi pada periode waktu tersebut (14-21 Februari 2025),” tutur Michael.

Baca Juga: Adu Cenayang Pawang Hujan, BMKG dan BRIN Soal Prediksi Badai Dahsyat di Jabodetabek

Merujuk analisis BMKG, khusus untuk dasarian II Februari 2025, hujan kriteria menengah bakal rutin mengguyur sebagian besar wilayah Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku Utara dan Maluku, hingga Papua Barat dan Papua.

Adapun wilayah yang kebagian hujan kategori lebat hingga sangat lebat meliputi sebagian kecil Banten bagian selatan, sebagian kecil Jawa Barat, sebagian kecil Jawa Tengah dan Jawa Timur bagian utara, serta sedikit area Nusa Tenggara Timur. Ada juga potensi serupa di sebagian wilayah Grontalo, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, hingga Papua bagian barat.