BANDUNG, CEKLISSATU.COM - Pemkot Bandung tegaskan komitmen menuju Kota Layak Anak lewat Deklarasi Zero Bullying untuk ciptakan lingkungan aman dan bebas kekerasan bagi anak.

Deklarasi Zero Bullying itu menjadi momentum bersama untuk mengingatkan seluruh masyarakat bahwa Kota Bandung harus bebas dari segala bentuk kekerasan dan perundungan, baik secara fisik maupun digital.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan menyampaikan, pencapaian 'zero bullying' bukan hal yang mudah. 

Baca Juga: Perundungan di Sekolah Kembali Terjadi, Sofyan Tan Tegaskan Peringatan Serius Bagi Dunia Pendidikan

Namun, langkah ini menjadi bagian penting dalam mewujudkan Bandung sebagai Kota Layak Anak tingkat Utama.

"Sekarang ini Kota Bandung baru berada di tingkat Nindya. Masih ada satu level lagi, yaitu Utama, dan kita sedang menuju ke sana," ujar Farhan pada kegiatan Deklarasi Kota Bandung Menuju Zero Bullying di SDN 113 Banjarsari, Rabu (25/10/2025).

"Deklarasi ini momentum untuk mengingatkan semua orang bahwa Bandung harus jadi kota yang ramah anak, bebas dari bullying dalam bentuk apapun," tuturnya.

Baca Juga: Yayasan Rumah Kedua Gandeng Satpol PP Kota Bogor Gelar “My Buddy, Stop Bullying”

Menurut Farhan, saat ini bentuk perundungan tidak hanya terjadi secara langsung (fisik), tapi juga melalui dunia digital.

"Masalahnya, literasi digital kita masih di bawah 70 persen, sementara akses internet sudah di atas 80 persen, dan kepemilikan ponsel bahkan lebih dari 100 persen. Artinya, perkembangan teknologi harus diimbangi dengan literasi yang baik agar tidak disalahgunakan untuk bullying," bebernya.

Selain itu, Pemkot Bandung juga terus memperkuat perlindungan dan edukasi bagi anak-anak agar tidak menjadi korban maupun pelaku kekerasan.

Baca Juga: 97 Kasus di Bogor, Satpol PP Bentuk My Buddy Stop Bullying, Jenal Muttaqin: Tidak Bisa Dianggap Sepele

"Kami sedang benar-benar mengkurasi semua upaya perlindungan anak supaya berjalan efektif, baik di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah," tambahnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Bandung, Uum Sumiati menjelaskan, Deklarasi Zero Bullying juga menjadi ajang memperkuat komitmen di dunia pendidikan.

"Kami ingin meningkatkan komitmen para kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, dan peserta didik. Sekolah harus jadi tempat yang aman dan nyaman bagi anak-anak. Bullying di sekolah punya dampak negatif yang besar terhadap tumbuh kembang mereka," kata Uum.

Baca Juga: Polsek Parung Panjang Berikan Penyuluhan Mencegah Radikalisme dan Bullying ke Murid dan Guru

Ia berharap, semua pihak di lingkungan sekolah bisa bersama-sama menjaga agar tidak ada lagi kekerasan atau perundungan.

"Kegiatan ini jadi pengingat dan penyemangat agar seluruh satuan pendidikan bertanggung jawab menciptakan sekolah yang benar-benar ramah anak," tambahnya.

Hal senada disampaikan Kepala Dinas Pendidikan Kota Bandung, Asep S. Gufron yang menyebut tantangan terbesar adalah memastikan seluruh sekolah benar-benar menerapkan nilai-nilai anti-bullying.

Baca Juga: Perundungan Kembali Marak, Netty Prasetiyani: Harap Kontrol Sosial Masyarakat Ditingkatkan

"Tidak mudah mendistribusikan program ini ke seluruh sekolah, tapi kami punya komitmen kuat untuk memastikan pengelolaan sekolah dan perlindungan anak berjalan baik," ujar Asep.

Dinas Pendidikan, lanjutnya, juga terus melakukan pemantauan dan evaluasi di setiap jenjang pendidikan.

"Kami terus mencermati perkembangan di tiap sekolah, dari TK hingga SMP. Kami juga siapkan tenaga psikolog bagi anak-anak yang membutuhkan pendampingan," jelasnya.

Baca Juga: Pemkot Bogor Incar Predikat Utama Kota Layak Anak

Dengan semangat kolaborasi dan komitmen lintas sektor, Pemkot Bandung berharap seluruh elemen masyarakat dapat turut menciptakan lingkungan yang aman, inklusif, dan bebas dari segala bentuk perundungan