BOGOR, CEKLISSATU - Aktivitas belajar, bekerja, hingga mencari hiburan kini banyak dilakukan melalui perangkat digital seperti komputer, laptop, tablet, dan telepon pintar. Mulai dari belajar, bekerja, hingga mencari hiburan, sebagian besar kegiatan kini dilakukan di depan layar. Namun, kebiasaan tersebut juga dapat menimbulkan keluhan pada mata yang dikenal sebagai digital eye strain atau kelelahan mata digital.
American Optometric Association menjelaskan bahwa digital eye strain merupakan kumpulan keluhan pada mata dan penglihatan yang muncul setelah seseorang terlalu lama menatap layar perangkat digital. Kondisi ini semakin umum terjadi seiring meningkatnya durasi penggunaan layar di berbagai kelompok usia.
Digital eye strain terjadi ketika mata bekerja lebih keras untuk fokus pada layar digital dibandingkan saat melihat objek secara langsung. Berbeda dengan teks pada buku cetak, huruf pada layar tersusun dari piksel sehingga membuat mata harus terus menyesuaikan fokus selama perangkat digunakan.
Baca Juga: Tak Hanya Dikenal di Dalam Negeri, Sejumlah Artis Indonesia Berhasil Menembus Pasar Internasional
Menurut American Academy of Ophthalmology, kondisi ini umumnya tidak menyebabkan kerusakan permanen pada mata, tetapi dapat menimbulkan ketidaknyamanan yang mengganggu aktivitas sehari-hari.
Gejala digital eye strain dapat berbeda pada setiap orang. Namun, beberapa keluhan yang paling umum meliputi mata lelah, mata kering, pandangan kabur, sakit kepala, serta nyeri pada leher dan bahu.
Berdasarkan informasi dari Mayo Clinic, gejala tersebut biasanya muncul setelah seseorang menatap layar dalam waktu lama tanpa jeda yang cukup. Semakin lama durasi penggunaan perangkat digital, semakin besar pula kemungkinan munculnya keluhan pada mata.
Salah satu penyebab utama digital eye strain adalah berkurangnya frekuensi berkedip saat menatap layar. Saat membaca atau bekerja menggunakan perangkat digital, seseorang cenderung berkedip lebih sedikit dibandingkan kondisi normal.
Akibatnya, permukaan mata menjadi lebih cepat kering dan menimbulkan rasa tidak nyaman. Selain itu, pencahayaan yang terlalu terang, kontras layar yang kurang sesuai, serta posisi layar yang tidak ergonomis juga dapat meningkatkan risiko kelelahan mata.
Di era digital, mahasiswa dan pekerja termasuk kelompok yang rentan mengalami digital eye strain. Aktivitas perkuliahan daring, penyusunan tugas, pengolahan data, hingga pekerjaan administrasi membuat banyak orang menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar setiap hari.
Baca Juga: Jangan Asal Murah, Perhatikan 6 Hal Ini Sebelum Beli Laptop yang Nyaman untuk Kuliah dan Kerja
Menurut berbagai penelitian yang dirangkum oleh American Optometric Association, risiko kelelahan mata meningkat pada individu yang menggunakan perangkat digital lebih dari dua jam tanpa istirahat yang memadai.
Para ahli dari American Optometric Association dan didukung secara global oleh American Academy of Ophthalmology serta Mayo Clinic merekomendasikan metode 20-20-20 untuk membantu mengurangi ketegangan pada mata. Aturan ini dilakukan dengan mengalihkan pandangan ke objek yang berjarak sekitar 20 kaki (sekitar 6 meter) selama 20 detik setiap 20 menit penggunaan layar.
Selain itu, menjaga jarak pandang sekitar 50 hingga 70 sentimeter dari layar, mengatur tingkat kecerahan perangkat, serta memastikan pencahayaan ruangan cukup dapat membantu mengurangi ketidaknyamanan pada mata.
Perangkat digital telah menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari kehidupan modern. Meski demikian, penggunaan yang berlebihan tanpa disertai kebiasaan yang sehat dapat meningkatkan risiko terjadinya digital eye strain.
Dengan memberikan waktu istirahat yang cukup bagi mata, menerapkan posisi kerja yang nyaman, serta membatasi penggunaan layar saat tidak diperlukan, masyarakat dapat menjaga kesehatan mata sekaligus tetap produktif di era serba digital.
Siti Balqis Sari Manah
Comment