MALANG, CEKLISSATU — Indonesia Creative Cities Network (ICCN) kembali menegaskan bahwa kolaborasi lintas sektor merupakan fondasi utama dalam membangun ekosistem kabupaten dan kota kreatif yang berkelanjutan di Indonesia.

Bagi ICCN, pembangunan kabupaten/kota kreatif tidak semata-mata mengejar capaian ekonomi, tetapi merupakan proses pembangunan holistik yang menempatkan budaya, inovasi, dan partisipasi publik sebagai inti transformasi wilayah.

ICCN memandang bahwa Kabupaten/Kota Kreatif adalah daerah yang menjadikan kreativitas, budaya, dan inovasi sebagai kekuatan utama pembangunan. Namun demikian, dampak yang dihasilkan jauh melampaui indikator finansial, mencakup penguatan identitas, kualitas ruang hidup, serta keterlibatan aktif warga dalam proses pembangunan.

Baca Juga: ICCN Kukuhkan Kepengurusan 2025-2028: "The Guardian" Ekosistem Kota dan Kabupaten Kreatif Indonesia

Ketua Umum ICCN, Tb. Fiki C. Satari, menegaskan bahwa esensi kabupaten/kota kreatif menyentuh aspek-aspek fundamental kehidupan masyarakat.
“Ketika kreativitas dijadikan sebagai kekuatan pembangunan, kabupaten dan kota tidak hanya tumbuh secara ekonomi, tetapi juga membangun identitas, menciptakan ruang hidup yang manusiawi, serta meningkatkan partisipasi warganya. Di sinilah kolaborasi antara komunitas, pemerintah, akademisi, media, pelaku usaha, dan agregator menjadi kunci,” ujar Fiki.

Lebih lanjut, Fiki menjelaskan bahwa terdapat tiga pilar utama di luar aspek ekonomi yang menjadi perhatian ICCN dalam pengembangan kabupaten/kota kreatif, yakni:
Identitas — penguatan karakter dan kekhasan lokal sebagai modal kultural daerah;
Ruang Hidup — penciptaan lingkungan yang layak huni, inklusif, dan inspiratif;
Partisipasi Warga — pelibatan aktif masyarakat dalam merumuskan dan menjalankan solusi pembangunan daerah.