BOGOR, CEKLISSATU - Beredarnya data yang menunjukan jumlah pengangguran di Kota Bogor menduduki posisi tertinggi di Jawa Barat (Jabar) menjadi perbincangan hangat ditengah masyarakat, bahkan disinggung soal janji kampanye Bima Arya-Dedie A. Rachim soal pengentasan pengangguran.
Menyikapi hal itu, Wakil Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim membenarkan bahwa presentase tingkat pengangguran di Kota Bogor menduduki peringkat tertinggi di pulau Jawa.
Namun Dedie menyebut bahwa data itu merupakan hasil survei jumlah pengangguran terbuka yang dinilai pasca pandemi Covid-19 dua tahun silam.
Baca Juga : Tampil di Porpemda 2023, Bupati Bogor Tandem Dadang Hengky
"Kalau tidak salah tahun 2021. Pada saat itu baru selesai pandemi, tetapi setelah 2021 pasca pandemi, kita kan banyak melakukan langkah-langkah terutama membuka lapangan pekerjaan melalui kemudahan berusaha di Kota Bogor," ucapnya pada Selasa, 21 November 2023.
Sehingga, lanjut Dedie, kondisi kala itu membuat keuangan daerah merosot hingga capaian pendapatan asli daerah (PAD) Kota Bogor berkurang hampir 40 persen.
"Jadi itu dilihat dari indikasi itu, dan memang kan Kota Bogor tidak ada industri, semuanya jasa, ada hotel, mall dan restoran. Kebayang dua tahun pada saat itu hotel restoran mall tutup semua, ya wajarlah disaat itu dilakukan penilaian," ungkapnya.
Meski begitu, pihaknya merasa tidak perlu ada yang ditutupi terkait jumlah angka pengangguran dan sudah sepatutnya menjadi konsumsi publik.
"Kota Bogor ini kan kalau dari sisi data selalu akurat ya, selalu menyampaikan data sesuai dengan fakta, tidak ada yang ditutup-tutupi. Jadi artinya ya itu adalah realitas yang ada yang kemudian harus jadi pemicu bagi pemerintah dan juga sektor swasta untuk bangkit berkembang, membuka lapangan pekerjaan da memudahkan kesempatan berusaha bagi semua orang," jelasnya.
Dedie mengaku bahwa pada masa-masa itu memang hampir seluruh daerah termasuk Kota Bogor dihadapkan dengan sejumlah tantangan yang amat besar. Namun, Dedie menyebut, saat itu Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor berupaya melakukan langkah-langkah komperhensif dan memudahkan akses perizinan dari sektor pendirian usaha.
Pihaknya mencatat, di tahun 2021 sedikitnya ada sekitar 300 usaha baru di Kota Bogor yang didominasi bidang kuliner mulai dari tingkat UMKM hingga restoran dan kafe.
"Jadi kalau kita dinilainya sekarang belum tentu (jumlah penganggurannya tertinggi), karena itu kan dinilainya tahun 2021 pasca pandemi. Saya sih optimis tahun-tahun belakangan ini, apalagi dengan banyak investasi yang masuk ke Kota Bogor, tentu tingkat pengangguran terbuka semakin berkurang," katanya.
Sementara itu, media sosial sempat dihebohkan dengan viralnya postingan yang menampilkan urutan kota/kabupaten di Jabar dalam persentase tingkat pengangguran tertinggi berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2022.
Dalam data tersebut, Kota Bogor berada di urutan pertama tingkat pengangguran di Jawa dengan nilai 10,78 persen. Kemudian di posisi kedua diduduki Kota Cimahi dengan nilai 10,77 persen dan ketiga, ada wilayah Kabupaten Bogor dengan nilai 10,64 persen.
Comment