BOGOR, CEKLISSATU - Produk menstruasi menjadi kebutuhan rutin bagi perempuan setiap bulan. Seiring berkembangnya pilihan yang tersedia di pasaran, masyarakat kini tidak hanya menggunakan pembalut sekali pakai, tetapi juga mulai beralih ke menstrual cup dan pembalut kain yang dapat digunakan berulang kali.

Selain mempertimbangkan kenyamanan, banyak pengguna mulai memperhatikan faktor biaya jangka panjang dan dampak lingkungan dari produk yang digunakan. United Nations Children's Fund (UNICEF) dan World Health Organization (WHO) menyebut akses terhadap produk menstruasi yang aman dan terjangkau sebagai bagian penting dari upaya menjaga kesehatan reproduksi perempuan.

Masing-masing produk memiliki kelebihan dan kekurangan yang perlu dipahami sebelum digunakan. Berikut perbandingannya.

1. Pembalut Sekali Pakai 

Pembalut sekali pakai merupakan produk menstruasi yang paling umum digunakan di Indonesia. Produk ini mudah ditemukan di minimarket, supermarket, maupun apotek dengan berbagai ukuran dan tingkat daya serap.

Baca Juga: Pembalut Mahal, Wanita di Negara Ini Pakai Kotoran Sapi Saat Menstruasi

Dari sisi biaya, penggunaan pembalut sekali pakai umumnya membutuhkan sekitar Rp30.000 hingga Rp50.000 per bulan, tergantung merek dan frekuensi penggantian. Namun, menurut laporan United Nations Environment Programme, sebagian besar pembalut mengandung plastik yang membutuhkan waktu puluhan hingga ratusan tahun untuk terurai di lingkungan.

Selain itu, penggunaan pembalut sekali pakai secara rutin menghasilkan limbah dalam jumlah cukup besar sepanjang masa reproduksi seorang perempuan.

2. Menstrual Cup

Menstrual cup merupakan wadah kecil berbahan silikon medis yang digunakan dengan cara dimasukkan ke dalam vagina untuk menampung darah menstruasi. Produk ini dapat dicuci dan digunakan kembali selama beberapa tahun.

Menurut National Health Service (NHS), menstrual cup yang dirawat dengan baik dapat digunakan hingga lima sampai sepuluh tahun, tergantung kualitas produk dan petunjuk penggunaan.

Meski harga awalnya berkisar Rp150.000 hingga Rp500.000, biaya penggunaannya dalam jangka panjang menjadi jauh lebih rendah. Jika dihitung per bulan selama masa pemakaian, biayanya dapat berada di kisaran beberapa ribu rupiah saja. Dari sisi lingkungan, menstrual cup menghasilkan limbah yang jauh lebih sedikit dibandingkan pembalut sekali pakai.

Namun, produk ini memerlukan proses adaptasi bagi pengguna baru dan harus dibersihkan dengan benar untuk menjaga kebersihan serta keamanan penggunaannya.

3. Pembalut Kain
Alternatif lain yang mulai banyak digunakan adalah pembalut kain atau cloth pad. Produk ini terbuat dari bahan kain yang dapat dicuci dan digunakan kembali setelah dibersihkan.

Baca Juga: Jadi Percontohan Nasional, Fahira Idris Sampaikan 6 Langkah Wujudkan Sistem Perlindungan Anak dan Perempuan di Jakarta

Menurut berbagai studi mengenai produk menstruasi berkelanjutan, pembalut kain dapat digunakan selama beberapa tahun apabila dirawat dengan baik. Karena dapat dipakai berulang kali, biaya penggunaannya menjadi lebih hemat dibandingkan pembalut sekali pakai.

Dari sisi lingkungan, pembalut kain juga menghasilkan limbah yang lebih sedikit. Namun, pengguna perlu menyediakan waktu untuk mencuci dan mengeringkan pembalut setelah digunakan. Selain itu, pengguna juga perlu memperhatikan kebersihan serta cara penyimpanan yang benar agar produk tetap aman dan nyaman digunakan. 

Para ahli kesehatan menegaskan bahwa tidak ada satu produk menstruasi yang paling baik untuk semua orang. Pemilihan produk perlu disesuaikan dengan kenyamanan, kondisi kesehatan, aktivitas sehari-hari, serta kemampuan dalam menjaga kebersihan produk tersebut.

Pembalut sekali pakai menawarkan kemudahan dan kepraktisan. Menstrual cup lebih unggul dari sisi efisiensi biaya jangka panjang dan pengurangan limbah. Sementara itu, pembalut kain menjadi pilihan bagi mereka yang menginginkan produk yang dapat digunakan berulang kali dengan dampak lingkungan yang lebih rendah.

Siti Balqis Sari Manah